WASHINGTON DC Dalam pidato kenegaraan yang disampaikan Selasa (24/2/2025) lalu, Presiden AS Donald Trump membuat pengumuman mengejutkan. Dia mengklaim Amerika Serikat telah menerima lebih dari 80 juta barel minyak dari Venezuela. "Kami baru saja menerima dari teman dan mitra baru kami, Venezuela, lebih dari 80 juta barel minyak," ucap Trump di hadapan publik.
Pernyataan itu tentu menarik perhatian banyak pihak. Bagaimana tidak? Pengiriman minyak dalam jumlah fantastis itu terjadi pasca-intervensi militer AS di Caracas awal tahun ini, tepatnya Januari 2026. Saat itu, pasukan khusus AS melancarkan serangan berdarah yang berujung pada penculikan Presiden Venezuela Nicolas Maduro.
Trump tak berhenti di situ. Dia juga menyebut produksi minyak domestik AS sendiri melonjak lebih dari 600.000 barel per hari. Sebuah angka yang digadang-gadang sebagai bukti kesuksesan kebijakan energinya.
Namun begitu, langkah Trump ini seolah membenarkan kekhawatiran yang sejak lama diungkapkan Maduro. Sang presiden Venezuela itu kerap memperingatkan bahwa permusuhan Washington terhadap pemerintahannya hanyalah dalih belaka. Tujuannya satu: merebut cadangan minyak negeri itu.
Dan tampaknya, kekhawatiran itu kini menjadi kenyataan. Pasca pengambilalihan, pemerintahan Trump langsung berjanji membuka keran investasi. Industri minyak Venezuela dibuka lebar untuk perusahaan-perusahaan raksasa AS macam Chevron, Exxon Mobil, dan ConocoPhillips. Bahkan, Trump berjanji menggelontorkan miliaran dolar untuk memulihkan produksi minyak mentah Venezuela yang sempat terpuruk.
Artikel Terkait
Ayah dan Anak Resmi Jadi Tersangka Penganiayaan Tetangga di Cengkareng
Pertamina Tambah Pasokan 710 Ribu Tabung Elpiji 3 Kg Jelang Ramadhan di Jateng
Badan Gizi Nasional Tegaskan Mobil Operasional SPPG Hanya untuk Distribusi Bantuan
Anggota DPR Soroti Kondisi Perlintasan Kereta di Tulangan Sidoarjo yang Berbahaya