Menurutnya, nilai-nilai yang membentuk anak sekarang ini banyak dibentuk oleh algoritma media sosial, bukan lagi dari keluarga. Lingkungan digital yang mereka huni kerap didominasi konten instan, hedonisme, dan gaya hidup serba wah.
Nah, soal penanganannya, Diana bilang upaya pencegahan harus benar-benar dimulai dari rumah. Orang tua perlu paham betul tentang kesehatan mental. Anak yang sehat mentalnya, kata dia, biasanya bisa mengenali potensi dirinya, punya tujuan hidup, dan mampu mengelola stres sehari-hari dengan baik.
Dia juga mengingatkan bahwa persoalan ini adalah tanggung jawab bersama. Pemerintah, misalnya, harus memberikan edukasi tentang keterampilan berkeluarga. Sekolah perlu mengadopsi pendekatan School-Based Mental Health. Sementara keluarga sendiri harus diperkuat agar bisa jadi pondasi utama kesehatan mental anak.
Intinya, Diana menekankan, sistem kesehatan mental harus dibangun sedini mungkin. Promosi dan pencegahan secara holistik itu kunci. Tujuannya satu: agar generasi muda bisa tumbuh optimal, dengan kesehatan emosional yang terjaga.
Artikel Terkait
Gagalnya Perundingan AS-Iran Dorong Harga Minyak Tembus US$100, Saham Migas RI Menguat
Foton eMiler, Truk Listrik dengan Kabin Lapang dan Akselerasi Halus, Siap Operasi di Indonesia
Dolar AS Melonjak ke Level Tertinggi Seminggu Usai Trump Perintahkan Blokade Selat Hormuz
Harga Emas Antam Stagnan di Rp2,86 Juta per Gram, Harga Buyback Turun Rp42 Ribu