Namun begitu, hubungan keduanya sebenarnya sudah terjalin lama. Bahkan sebelum resmi menjabat sebagai presiden, tepatnya saat masih menjadi Menteri Pertahanan dan presiden terpilih, Prabowo sudah pernah bertemu Raja Abdullah pada Juni 2024. Waktu itu, pembicaraan mereka banyak menyentuh isu kemanusiaan yang memanas di Gaza.
Ungkapan itu disampaikan Prabowo saat Raja Abdullah membalas kunjungan ke Jakarta pada November 2025. Kini, di Amman, mereka akan bertemu lagi. Selain pembicaraan empat mata, juga akan disaksikan penandatanganan beberapa perjanjian kerja sama di berbagai sektor.
Sementara itu, di hotel tempat Presiden bermalam, suasana berbeda sudah menunggu. Puluhan diaspora Indonesia dan mahasiswa tampak antusias. Mereka sejak tadi berkumpul di lobi, berharap bisa menyapa langsung sang kepala negara.
Rombongan presiden sendiri tadi berangkat dari London dengan didampingi sejumlah nama penting. Ada Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya, Menlu Sugiono, hingga Menteri ESDM Bahlil Lahadalia. Agenda di Amman dipadatkan. Rencananya, selepas semua acara Rabu siang, Presiden Prabowo akan segera meninggalkan Yordania pada sore harinya.
Lawatan singkat, tapi sarat makna. Mempererat persahabatan lama, sambil membuka jalan untuk kerja sama baru di masa depan.
Artikel Terkait
Jepang Siapkan Pelepasan Cadangan Minyak Nasional pada Mei 2026
Dishub DKI Terapkan Rekayasa Lalu Lintas untuk Halal Bihalal di Kota Tua
Iran Setujui Gencatan Senjata Dua Pekan, Perundingan Damai dengan AS Segera Dimulai di Islamabad
Prabowo Mundur dari Ketua Umum IPSI Setelah 34 Tahun