jelas AKP Bayu di lokasi. Jadi, semuanya harus bertahap, mengikuti kondisi dan nafsu makan sang gajah.
Nanas bukan satu-satunya. Jajaran polisi juga biasa membawakan variasi lain: semangka, pisang, atau tebu. Tujuannya jelas, menjaga keseimbangan gizi para satwa besar ini.
Yang menarik, upaya mereka tak berhenti di bantuan instan. Bersama pengelola PLG Sebanga yang dipimpin Irwansyah, mereka menggarap lahan sekitar setengah hektar untuk ditanami tebu. Ini jadi cadangan pakan alami jangka panjang. Sebuah langkah kecil yang punya dampak besar.
Di Sebanga, ada lima ekor gajah yang menetap. Seekor jantan bernama Sarma yang berusia 40 tahun, dan empat betina: Sella (21), Rossa (29), Dora (15), serta Puja (19). Merekalah penerima manfaat utama dari program ini.
Di sisi lain, harapannya sederhana tapi mendalam. Polisi ingin kehadiran mereka tak cuma dirasakan masyarakat, tapi juga menyentuh sisi lain kehidupan: kesejahteraan satwa liar. Dengan cara ini, harmoni antara manusia dan alam di Riau perlahan tapi pasti, coba diperkuat. Satu pikap nanas, satu langkah kecil untuk kelestarian.
Artikel Terkait
Presiden Prabowo Tiba di Yordania, Dijemput Langsung Putra Mahkota untuk Pertemuan dengan Raja Abdullah
Kapolda Riau Buka Ruang Kritik dan Perkenalkan Konsep Green Policing
Remaja Perempuan di Malang Tewas Dibunuh, Pacar Ditangkap Usai Identifikasi DNA
Imipas Longgarkan Standar Risiko Narapidana untuk Atasi Kepadatan Lapas