Untuk proyek percontohan, Kampung Talang di Kelurahan Kapalo Koto dipilih sebagai lokasi pertama. Kolaborasi digalang bersama Kadin Sumatra Barat dan Kadin Indonesia. SIG sendiri memastikan pasokan bata dari PT Semen Padang ini cukup untuk mendukung program secara penuh.
Kapasitas produksinya terbilang besar. Untuk tipe rumah 36 saja, mereka bisa mendukung hingga 120 unit huntap per bulannya. Daerah distribusinya pun tak cuma Sumatra Barat. Wilayah seperti Sumatra Utara dan Aceh juga menjadi sasaran.
Sebelumnya, teknologi serupa sudah diuji coba di beberapa proyek. Misalnya di Ibu Kota Nusantara (IKN) dan di Bambu Apus, Jakarta Timur. Hasilnya? Efisiensi waktu konstruksi yang signifikan dengan kualitas yang tetap terjaga.
Vita menekankan, komitmen sosial dan lingkungan tetap jadi prioritas. Operasional perusahaan harus selaras dengan pembangunan berkelanjutan.
“Inovasi semen hijau SIG lebih rendah emisi karbon hingga 38% dibandingkan semen konvensional,” katanya.
Tak hanya ramah lingkungan, produk ini juga punya tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) yang tinggi, mencapai lebih dari 90%. Artinya, menggunakan produk SIG turut mendukung industri lokal sekaligus menjaga kelestarian alam.
Artikel Terkait
Lima Lembaga Intelijen yang Membentuk Peta Kekuatan Global
TAUD Ungkap Dugaan Serangan Terorganisir Melibatkan 16 Orang terhadap Andrie Yunus
Dolar AS Melemah Didorong Kabar Perundingan Damai Israel-Lebanon
Bentrok di Halmahera Tengah Dipicu Hoaks, Bukan Konflik SARA