New York, Kamis siang. Dolar AS kehilangan pijakannya di tengah pasar yang bergejolak. Kabar terbaru dari Timur Tengah ternyata cukup kuat untuk mengubah arah angin. Israel dan Lebanon, dua negara yang kerap berseteru, dilaporkan telah menyepakati meja perundingan. Langkah ini dianggap menghilangkan salah satu titik sengketa utama bagi Iran, memberi angin segar bagi upaya gencatan senjata yang lebih luas.
Indeks dolar, yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama lainnya, tercatat merosot 0,4 persen ke level 98,82. Data ini mengutip pantauan Investing.com pada Jumat (10 April 2026) waktu Indonesia.
Awalnya, dolar sempat menguat tipis. Sentimen "safe haven" masih menguat karena banyak yang ragu gencatan senjata bisa bertahan lama. Namun, perkembangan di Lebanon dan Israel itu rupanya jadi game changer. Investor pun beramai-ramai beralih ke aset berisiko, mendorong Wall Street berbalik menguat dan meninggalkan dolar.
Gencatan yang Diwarnai Keraguan
Sebenarnya, awal pekan ini sempat ada secercah harapan. AS dan Iran sepakat pada gencatan senjata dua minggu, tepat beberapa jam sebelum ultimatum Presiden Donald Trump berakhir. Reaksi pasar waktu itu sangat positif. Para trader berebut membeli saham, hingga indeks Dow Jones mencatat kenaikan harian terbaik dalam setahun. Dolar pun tertekan karena aset aman tak lagi banyak diburu.
Artikel Terkait
Presiden Prabowo Dikawal Enam Jet Tempur dalam Penerbangan ke Magelang, Sambut HUT ke-80 TNI AU
Pemerintah Arahkan Motor Listrik untuk Pasar Domestik, Motor BBM Digenjot Ekspor
Anggota DPR Ingatkan Ulang Ancaman Kolaps BPJS Kesehatan pada 2026
Ekonom: Ketegangan Timur Tengah dan Sinyal The Fed Tekan Rupiah