Trump Desak Sekutu Kirim Kapal Perang Buka Blokade Iran di Selat Hormuz

- Selasa, 17 Maret 2026 | 03:25 WIB
Trump Desak Sekutu Kirim Kapal Perang Buka Blokade Iran di Selat Hormuz

Presiden AS Donald Trump mendesak sekutu-sekutunya untuk turun tangan di Selat Hormuz. Jalur pelayaran vital itu kini diblokade oleh Iran, dan Trump tak segan mengancam negara yang enggan membantu. "Dengan satu atau lain cara, kita akan segera membuka, mengamankan, dan membebaskan Selat Hormuz!" tegasnya.

Menurut sejumlah saksi, situasi di kawasan itu memang memanas. Iran secara resmi menutup selat itu awal Maret 2026, sebagai balasan atas serangan gabungan AS dan Israel. Akibatnya? Jalur perdagangan energi global langsung kacau. Harga minyak pun melonjak drastis.

Dalam unggahan di Truth Social, Trump terlihat mendorong banyak negara. Dia secara khusus menyebut Inggris, China, Prancis, Jepang, hingga Korea Selatan. Intinya, dia minta mereka mengirimkan kapal perang untuk membantu mengamankan perairan tersebut.

"Semoga China, Prancis, Jepang, Korea Selatan, Inggris, dan negara-negara lain yang terpengaruh oleh kendala buatan ini akan mengirimkan kapal ke daerah tersebut," tulis Trump pada Sabtu (14/3).

Klaimnya soal kondisi Iran punya dua sisi. Di satu sisi, dia menyebut 100% kemampuan militer Iran sudah hancur. Namun begitu, dia mengakui ancaman masih ada mulai dari drone, ranjau, hingga rudal jarak dekat yang bisa mengganggu lalu lintas kapal tanker.

Tanggapan dari London datang cukup hati-hati. Kementerian Pertahanan Inggris hanya menyatakan sedang membahas berbagai opsi dengan sekutu untuk memastikan keamanan pelayaran. Mereka belum berkomitmen lebih jauh.

Sementara itu, Teheran bersikukuh. Mereka bersumpah akan terus memblokade selat yang biasanya dilalui 20% pasokan minyak dunia itu. Ancaman Trump untuk "membombardir garis pantai habis-habisan" sepertinya belum menggoyahkan niat mereka.

Yang jelas, tekanan ini makin besar. Trump memperluas seruannya ke semua negara pengimpor minyak via Hormuz, dengan janji dukungan bagi yang mau ikut serta. Tapi, apakah desakan ini akan berujung pada armada internasional yang solid? Masih harus ditunggu. Situasinya rumit, dan dunia menunggu langkah selanjutnya.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar