Menurut Herman Deru, stabilitas keamanan adalah fondasi utama. Tanpa itu, pembangunan daerah bisa macet.
“Sinergi yang kuat antara pemda, TNI, Polri, dan semua pihak adalah kunci untuk mewujudkan Sumsel Zero Conflict. Ini syarat mutlak untuk kesejahteraan masyarakat,” tegasnya lagi.
Nah, soal Zero Conflict itu, rupanya bukan sekadar jargon. Kabid Humas Polda Sumsel, Kombes Nandang Mu'min Wijaya, menjelaskan bahwa komitmen itu diwujudkan lewat langkah nyata di lapangan. Kapolda sudah menginstruksikan semua jajaran, dari Polres hingga tingkat bawah, untuk meningkatkan patroli malam dan mengawasi titik-titik rawan. Koordinasi lintas sektor juga diperketat untuk mencegah eskalasi masalah.
“Tidak ada ruang bagi pengganggu stabilitas,” kata Nandang menirukan perintah Kapolda. Penegakan hukum, imbuhnya, akan dilakukan secara profesional. Proporsional. Tujuannya satu: menjamin rasa aman masyarakat bisa nyaman beribadah dan beraktivitas.
Acara malam itu sendiri berjalan khidmat. Usai sholat Isya berjamaah dan tausiyah, jamaah melanjutkan dengan tarawih. Tampak hadir sejumlah pejabat tinggi daerah, seperti Ketua DPRD Sumsel Andie Dinialdie, Pangdam II/Sriwijaya Mayjen TNI Ujang Darwis, dan Kajati Sumsel Ketut Sumedana. Mereka bersama-sama mengawali Ramadhan dengan doa dan tekad menjaga keamanan. Sebuah awal yang penuh kesadaran, di tengah nuansa spiritual bulan suci.
Artikel Terkait
Lima Lembaga Intelijen yang Membentuk Peta Kekuatan Global
TAUD Ungkap Dugaan Serangan Terorganisir Melibatkan 16 Orang terhadap Andrie Yunus
Dolar AS Melemah Didorong Kabar Perundingan Damai Israel-Lebanon
Bentrok di Halmahera Tengah Dipicu Hoaks, Bukan Konflik SARA