TVRINews – Jenewa
Di tengah tensi geopolitik yang makin panas, Jakarta berkomitmen menjadikan PBB sebagai wadah kerja sama yang benar-benar inklusif.
Mandat baru Indonesia sebagai Presiden Dewan HAM PBB untuk tahun 2026 resmi dimulai. Situasinya? Bisa dibilang sangat kompleks. Geopolitik global lagi tidak karuan, penuh dengan ketegangan yang sepertinya makin sulit diurai.
Di hadapan para delegasi dari berbagai negara di Jenewa, Senin lalu, Menteri Luar Negeri Sugiono tak menampik bahwa amanah ini berat. “Ini tanggung jawab besar,” katanya. Tapi ia meyakinkan, tanggung jawab itu akan dijawab dengan langkah-langkah konkret, bukan sekadar wacana.
“Kepercayaan yang diberikan kepada kami, terutama di tengah ketidakpastian global yang begitu mendalam, adalah tanggung jawab besar yang kami junjung dengan penuh kesungguhan,” tegas Sugiono.
Pidatonya di sesi High Level Segment ke-61 itu jelas menyoroti satu hal: integritas lembaga internasional seperti PBB harus dijaga agar tetap relevan. Bagi Indonesia, posisi ini bukan cuma soal jabatan administratif belaka. Ini lebih pada dedikasi untuk menjembatani segala perbedaan yang ada di panggung global.
Netralitas di Tengah Badai Polarisasi
Memang, efektivitas multilateralisme saat ini sedang diuji. Ketegangan politik antara kekuatan-kekuatan besar dunia memberi tantangan yang tidak main-main. Menlu Sugiono pun mengingatkan, Dewan HAM PBB jangan sampai terjebak pada pendekatan yang terlihat selektif atau malah memihak. Kalau itu terjadi, kredibilitas institusi bisa tergerus perlahan-lahan.
Artikel Terkait
ITS Kembangkan Bensin Sawit Benwit sebagai Alternatif Energi Nasional
Timnas Futsal Indonesia Kalahkan Vietnam, Lolos ke Final Piala AFF 2026
FC Cincinnati Serius Incar Neymar, Komunikasi dengan Perwakilan Pemain Sudah Dibuka
Kominfo: Layanan Telekomunikasi Ramadan dan Lebaran 2026 Stabil Tanpa Gangguan Signifikan