MURIANETWORK.COM - Kanal distribusi asuransi jiwa melalui perbankan, atau yang dikenal sebagai bancassurance, masih menjadi penyumbang terbesar pendapatan premi industri hingga kuartal ketiga tahun 2025. Data dari Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) menunjukkan kontribusinya mencapai 41,5% dari total, dengan nilai realisasi sebesar Rp55,28 triliun. Meski demikian, terjadi penurunan tahunan sebesar 4,2%, yang oleh AAJI dijelaskan sebagai bagian dari transformasi struktur produk di kanal tersebut.
Pergeseran Komposisi Produk Pengaruhi Nilai Premi
Penurunan angka secara tahunan itu bukan tanpa alasan. Direktur Eksekutif AAJI, Emira E. Oepangat, menjelaskan bahwa pergerakan tersebut terutama dipengaruhi oleh perubahan komposisi produk yang dipasarkan.
“Pergerakan ini terutama dipengaruhi oleh perubahan komposisi produk yang dipasarkan melalui kanal bancassurance, khususnya berkurangnya premi tunggal yang secara nominal biasanya bernilai besar dan dibayarkan sekaligus di awal,” ungkapnya kepada media pada Senin (23/2/2026).
Alih-alih produk dengan premi tunggal besar, belakangan justru terlihat kecenderungan peningkatan porsi premi reguler. Nilai per transaksinya mungkin lebih kecil, namun sifatnya berkelanjutan dan memberikan aliran pendapatan yang lebih stabil. Selain itu, dinamika pasar investasi dan penyesuaian strategi distribusi dari pihak perbankan juga turut mempengaruhi capaian tersebut.
Transformasi Bisnis, Bukan Pelemahan Minat
Menanggapi tren ini, AAJI menekankan bahwa perubahan yang terjadi lebih mencerminkan penyesuaian struktur bisnis yang sedang berlangsung.
“Dengan demikian, perubahan yang terjadi lebih mencerminkan penyesuaian struktur bisnis dibandingkan pelemahan minat masyarakat terhadap produk asuransi jiwa,” tegas Emira.
Pernyataan ini menggarisbawahi bahwa fondasi permintaan terhadap proteksi asuransi jiwa tetap kuat. Yang berubah adalah cara dan bentuk produknya, yang beradaptasi dengan kondisi pasar serta preferensi nasabah yang semakin beragam.
Prospek dan Strategi Ke Depan
Ke depan, AAJI meyakini bancassurance akan tetap menjadi kanal distribusi yang strategis. Kekuatannya terletak pada jangkauan jaringan perbankan yang luas, basis nasabah yang sudah ada, dan potensi integrasi dengan layanan keuangan lainnya. Kolaborasi erat antara perusahaan asuransi dan bank dinilai krusial untuk penetrasi pasar yang lebih efektif, terutama di segmen ritel.
“Kontribusi sebesar 41,5% terhadap total premi menunjukkan kanal ini masih menjadi salah satu tulang punggung distribusi industri asuransi jiwa. Ke depan, perannya tetap penting, terutama dalam memperluas akses proteksi kepada masyarakat yang telah memiliki hubungan perbankan formal,” tegas Emira menegaskan optimisme tersebut.
Pengembangannya diproyeksikan akan semakin mengerucut pada segmentasi yang spesifik, sesuai dengan karakteristik pasar dari masing-masing bank mitra. Fokusnya adalah menciptakan nilai tambah bagi nasabah.
“Kolaborasi bank dan perusahaan asuransi dapat menghadirkan solusi financial planning yang lebih komprehensif, termasuk produk proteksi yang dikaitkan dengan investasi dengan pilihan underlying asset yang lebih bervariasi,” tutup Emira menguraikan arah perkembangan ke depan.
Artikel Terkait
Kapolri Imbau Orang Tua Awasi Anak Muda untuk Cegah Tawuran Saat Ramadan
Hodak Jelaskan Alasan Debut Singkat Dion Markx di Kemenangan Persib
Laporan Wardatina Mawa Naik ke Penyidikan, Kuasa Hukum Insanul Fahmi Ancam Minta Perlindungan ke Presiden
Korlantas Tinjau Kesiapan Tol Trans Sumatera Jelang Mudik, Larang Kendaraan Over Dimensi