MURIANETWORK.COM - Pengerahan kekuatan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk menunjukkan eskalasi yang lebih serius dari sekadar pesan diplomatik. Kedatangan kapal induk USS Abraham Lincoln di dekat perairan Iran, diikuti pergerakan kapal induk USS Gerald R Ford ke timur, menandai persiapan nyata untuk potensi operasi militer. Langkah ini, ditambah dengan perpindahan aset militer AS lainnya, mengisyaratkan Washington tengah menyusun opsi militer berlapis di tengah jalan buntu pembicaraan tidak langsung dengan Teheran. Situasi ini memunculkan pertanyaan mendasar tentang keberanian Iran menantang kekuatan militer terbesar dunia, yang akarnya terletak pada tuntutan AS yang dianggap Teheran sebagai bentuk penyerahan diri.
Inti Perselisihan: Tuntutan yang Dianggap Sebagai Penyerahan Diri
Dari sudut pandang pemerintah Iran, syarat-syarat yang diajukan Washington bukanlah dasar negosiasi, melainkan ultimatum yang tak bisa diterima. Tuntutan itu mencakup penghentian pengayaan uranium, pembatasan jangkauan rudal balistik, penghentian dukungan kepada kelompok bersenjata di wilayah, serta perubahan kebijakan domestik.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menegaskan, perubahan dalam memperlakukan warganya juga menjadi bagian dari agenda.
Bagi para pemimpin di Teheran, poin-poin ini bukanlah kebijakan sampingan. Ini adalah pilar utama arsitektur keamanan nasional mereka. Tanpa sekutu global yang kuat, Iran selama beberapa dekade membangun jaringan yang mereka sebut "Poros Perlawanan", sebuah strategi untuk menjauhkan ancaman dari perbatasan mereka. Program rudal balistik berfungsi sebagai tulang punggung deterrence, menggantikan angkatan udara yang sudah menua. Sementara itu, program nuklir, meski dinyatakan untuk perdamaian, memberikan apa yang oleh analis disebut "kemampuan ambang batas" infrastruktur yang siap dikonversi untuk keperluan militer kapan saja.
Menghapus elemen-elemen kunci ini, dalam kalkulasi Iran, sama saja dengan melucuti fondasi pertahanan dan pengaruh regional mereka secara menyeluruh.
Kalkulasi Berisiko bagi Pemimpin Tertinggi
Bagi Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei, menerima tuntutan AS mungkin dianggap lebih berbahaya daripada menghadapi risiko perang terbatas. Konfrontasi militer, meski berbiaya mahal, dipandang masih bisa dikelola. Sebaliknya, kemunduran strategis total dianggap dapat meruntuhkan legitimasi dan keamanan rezim dari dalam.
Namun, risiko dari pilihan ini sangat besar. Serangan AS berpotensi menargetkan kepemimpinan senior Iran sejak fase awal. Jika Khamenei terbunuh, bukan hanya pemerintahannya selama tiga dekade berakhir, tetapi juga dapat memicu krisis suksesi yang parah. Serangan terhadap Korps Garda Revolusi Islam dapat melemahkan aparatus keamanan yang baru saja meredam gelombang unjuk rasa besar-besaran. Guncangan terhadap mesin koersif negara itu berisiko membangkitkan kembali ketidakpuasan publik yang masih membara di bawah permukaan.
Tekanan ekonomi menjadi lapisan kerentanan lain. Ekonomi Iran yang sudah tercekik sanksi akan kesulitan menyerap guncangan perang. Gangguan pada ekspor minyak atau kerusakan infrastruktur dapat dengan cepat memicu gejolak sosial baru. Dalam konteks ini, sikap membangkang Iran berfungsi ganda: menunjukkan keteguhan hati kepada dunia luar sekaligus memproyeksikan kekuatan kepada audiens domestik, meski secara bersamaan mempersempit ruang untuk kompromi.
Dilema dan Bahaya yang Juga Menghantui Washington
Di sisi lain, Washington juga menghadapi risiko nyata yang tidak boleh dianggap remeh. Meski keunggulan militer AS di atas kertas tak terbantahkan, dinamika perang sering kali melahirkan konsekuensi yang tak terduga. Perang dibentuk oleh kesalahan perhitungan dan eskalasi di luar kendali.
Konflik 12 hari antara Iran dan Israel beberapa waktu lalu memberikan gambaran: meski menunjukkan kerentanan, konfrontasi itu juga mengungkap kemampuan Iran untuk beradaptasi dan merespons di bawah tekanan. Perang yang lebih luas berpotensi menghasilkan hasil yang tidak diinginkan kedua belah pihak. Melemahnya otoritas pusat di Teheran tidak serta merta menguntungkan kepentingan Barat. Kekosongan kekuasaan justru dapat melahirkan pusat-pusat pengaruh baru yang lebih terfragmentasi dan radikal, yang justru memperumit stabilitas regional.
Kini, Ayatollah Khamenei terjepit di antara pilihan-pilihan yang sama-sama pahit. Menerima syarat Washington mengikis strategi deterrence rezim. Menolaknya meningkatkan ancaman konfrontasi di saat kerentanan internal sedang tinggi. Di antara pilihan "terburuk" berupa penyerahan strategis, dan "yang terbaik dari yang terburuk" berupa perang terbatas, sikap publik Teheran sejauh ini tampak condong ke opsi kedua. Jalan di depan dipenuhi ketidakpastian, di mana salah langkah kecil dari salah satu pihak dapat memicu konsekuensi yang jauh melampaui perhitungan awal mereka.
Artikel Terkait
Menteri Komunikasi: Indonesia Ambil Peran Aktif di Forum Perdamaian Palestina
ART Indonesia-AS Belum Berlaku, Tunggu Ratifikasi Parlemen
KPK Analisis Laporan Menag Soal Perjalanan Naik Jet Pribadi OSO
Dua Tewas dalam Kecelakaan Mobil Tabrak Pohon di Lamongan