Korea Selatan Protes Keras Acara Hari Takeshima yang Digelar Jepang

- Minggu, 22 Februari 2026 | 19:05 WIB
Korea Selatan Protes Keras Acara Hari Takeshima yang Digelar Jepang

Ketegangan ini bukanlah insiden pertama. Gugusan pulau karang kecil di Laut Timur itu, yang disebut Dokdo oleh Korea dan Takeshima oleh Jepang, telah lama menjadi titik panas hubungan kedua negara. Korea Selatan secara fisik menguasai pulau-pulau tersebut dengan penjagaan permanen, sementara Jepang terus mengajukan klaim kedaulatannya. Perselisihan ini berakar dalam dari masa lalu, yaitu era kolonial Jepang di Semenanjung Korea pada 1910-1945, yang masih membayangi hubungan diplomatik keduanya hingga kini.

Protes terbaru Seoul ini bahkan datang beruntun. Sebelumnya, pada Jumat, pemerintah Korea Selatan juga telah menyampaikan keberatan atas pernyataan Menteri Luar Negeri Jepang di parlemen yang kembali menegaskan klaim Tokyo atas wilayah tersebut.

Tanggapan dan Implikasi Strategis

Hingga berita ini diturunkan, pihak berwenang Jepang belum memberikan tanggapan resmi terhadap protes terkini dari Seoul. Seorang pejabat Kementerian Luar Negeri Jepang menyatakan tidak ada yang dapat dihubungi untuk berkomentar pada hari Minggu. Panggilan ke Kantor Perdana Menteri juga tidak dijawab. Analisis dari lapangan mencatat, meski acara tersebut dihadiri pejabat, pemerintah pusat Jepang tampak mengirimkan perwakilan tingkat wakil menteri dari Kantor Kabinet, bukan menteri kabinet penuh.

Di balik sengketa kedaulatan yang sarat emosi sejarah, terdapat nilai strategis yang nyata. Wilayah perairan di sekitar pulau-pulau tersebut dikenal sebagai daerah penangkapan ikan yang sangat produktif. Lebih dari itu, para ahli geologi dan analis energi memperkirakan kawasan itu mungkin menyimpan cadangan gas alam hidrat yang sangat besar, yang nilai ekonominya diperkirakan bisa mencapai miliaran dolar. Faktor inilah yang diyakini banyak pengamat turut memperumit dan mempertajam perselisihan antara kedua kekuatan ekonomi Asia Timur ini.

Editor: Novita Rachma


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar