Masalahnya nggak cuma itu. Underpass yang ada juga disebut sempit. Akibatnya, penumpang yang turun di peron arah Bogor dan ingin ke terminal terpaksa mutar lewat pasar demi menghindari tangga.
Dari pantauan di lokasi pada hari yang sama, kondisi fisik stasiun memang terlihat kontradiktif. Di pintu masuk utama, ada tangga umum dan jalur khusus disabilitas. Guiding block untuk tunanetra juga terpasang di area tertentu.
Namun begitu, akses vital untuk menyeberang antar peron justru menjadi buntu. Hanya ada underpass bertangga, tanpa guiding block, tanpa alternatif lain. Kursi roda yang tersedia di setiap peron pun akhirnya hanya jadi pajangan. Penyandang disabilitas tetap tak bisa berpindah sisi karena terhalang anak tangga.
Intinya, fasilitas yang ada terkesan setengah hati. Ada di beberapa titik, tapi absen di bagian yang paling krusial.
Artikel Terkait
Kemacetan Parah Landa Kawasan Lapangan Banteng Imbas Gelaran Lebaran Betawi
Sekretaris Kabinet Kritik Inflasi Pengamat yang Tak Berdasar Data
Otoproject Ekspansi ke Bekasi dan Serpong dengan Konsep Studio Modern
Jatim Libatkan 7.500 Relawan Santri dan Mahasiswa untuk Percepat Sertifikasi Tanah