Selain hunian, pemulihan infrastruktur transportasi yang rusak juga mendapat perhatian serius. Tito menyoroti pentingnya perbaikan jembatan penghubung yang vital bagi mobilitas warga dan distribusi logistik. Jalur di daerah tersebut merupakan poros penghubung antara Kota Medan dan Banda Aceh, yang kerap dilalui kendaraan berat.
Untuk itu, ia telah berkoordinasi langsung dengan Menteri Pekerjaan Umum guna membangun jembatan permanen pengganti yang lebih kuat dan andal. Pembangunan ini diharapkan dapat mengamankan akses transportasi yang selama ini menjadi urat nadi perekonomian dan kehidupan sosial masyarakat setempat.
“Menteri PU saya udah kontak tadi dan juga petugas PU. Menteri PU sampaikan sama saya … tadi barusan setengah jam lalu kontak-kontakan, dia bangun jembatan (permanen) di sebelahnya jembatan sementara yang roboh itu,” kata Tito.
Tantangan Pemulihan Jangka Panjang
Meski upaya percepatan terus didorong, Tito mengakui masih ada sejumlah persoalan kompleks yang memerlukan penanganan berkelanjutan. Rumah-rumah warga yang masih terendam lumpur serta sekitar 1.500 hektare lahan sawah yang belum pulih menjadi pekerjaan rumah berikutnya. Kondisi ini menggambarkan bahwa pemulihan pascabencana tidak hanya tentang membangun kembali, tetapi juga memulihkan mata pencaharian.
Pemerintah pun mempertimbangkan langkah-langkah pencegahan jangka panjang, seperti pembangunan sabo dam dan penguatan tanggul, untuk memitigasi risiko bencana serupa di masa depan. Melalui koordinasi yang intensif antar kementerian dan dukungan penuh pemerintah daerah, diharapkan seluruh tahap pemulihan di Pidie Jaya dapat berjalan efektif dan menyeluruh, memberikan landasan yang lebih kokoh bagi masyarakat untuk bangkit.
Artikel Terkait
PSG Kalahkan Liverpool 2-0, Kokohkan Posisi Jelang Leg Kedua
Harga Emas Perhiasan Tembus Rp2,4 Juta per Gram pada 9 April 2026
Kisah Mardi Rambo dan Pengorbanan Prajurit Garuda di Medan Perdamaian
Promotor Ungkap Tantangan Yakinkan Patrick Kluivert Tampil Lagi di Indonesia