Warga Teheran Bersiap Hadapi Eskalasi Konflik di Tengah Ultimatum AS-Iran

- Minggu, 22 Februari 2026 | 12:05 WIB
Warga Teheran Bersiap Hadapi Eskalasi Konflik di Tengah Ultimatum AS-Iran

“Saya semakin takut karena saya dan ibu saya mengalami banyak kesulitan selama perang 12 hari terakhir,” jelasnya, mengenang pahitnya pengungsian yang terpaksa mereka lakukan. “Kami harus pergi ke kota lain.”

Kekhawatiran serupa diungkapkan oleh Mina Ahmadvand, seorang teknisi IT berusia 46 tahun. Dengan keyakinan bahwa konflik sudah tak terhindarkan, ia telah mengambil langkah antisipasi. “Saya pikir pada tahap ini, perang antara Iran dan AS serta Israel tidak dapat dihindari dan saya telah mempersiapkan diri untuk kemungkinan itu,” ungkapnya.

Persiapannya cukup detail, mencerminkan kehati-hatian seseorang yang akrab dengan analisis risiko. “Saya membeli selusin makanan kaleng termasuk ikan tuna dan kacang-kacangan serta beberapa bungkus biskuit, air minum kemasan, dan beberapa baterai tambahan, di antara barang-barang lainnya,” paparnya.

Diplomasi di Tengah Ancaman

Latar belakang dari ketegangan ini adalah pembicaraan yang sedang berlangsung antara Iran dan Amerika Serikat. Pemerintah Iran bersikeras untuk membatasi pembahasan hanya pada isu nuklir, sementara Washington sebelumnya mendorong agar program rudal balistik dan dukungan Teheran kepada kelompok bersenjata di kawasan juga menjadi agenda. Jalur diplomasi ini berjalan di atas es yang tipis, dengan hasil yang masih sangat tidak pasti.

Ancaman terbuka dari Presiden AS Donald Trump, yang memperingatkan bahwa “hal-hak buruk” akan terjadi jika kesepakatan tidak tercapai dalam batas waktu tertentu, hanya menambah tekanan dan mempersulit iklim percakapan. Ultimatum yang awalnya 10 hari dan kemudian diperpanjang menjadi 15 hari itu menggantung seperti pedang di atas leher, mempercepat detak jantung warga yang mendambakan perdamaian.

Suasana di Teheran saat ini adalah gambaran nyata dari kehidupan di bawah ancaman konflik yang berlarut-larut. Di balik rutinitas kota metropolitan, tersimpan kecemapan akan masa depan, persediaan logistik darurat, dan harapan agar diplomasi dapat menemukan celah di tengah retorika perang. Cerita Hamid, Hanieh, dan Mina adalah potret kecil dari jutaan suara yang terdiam, menunggu dengan napas tertahan, sambil berharap malam ini mereka bisa tidur dengan tenang.

Editor: Agus Setiawan


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar