MURIANETWORK.COM - Ketegangan geopolitik yang kembali memuncak di Timur Tengah menebarkan kecemasan mendalam di tengah warga Teheran, Iran. Setelah konflik singkat namun mematikan dengan Israel setahun silam, ancaman eskalasi baru yang melibatkan Amerika Serikat membuat banyak penduduk ibu kota hidup dalam bayang-bayang ketakutan dan ketidakpastian. Laporan dari lapangan menggambarkan suasana hati warga yang waspada, dengan beberapa bahkan telah mulai mempersiapkan diri untuk skenario terburuk.
Luka Lama yang Belum Sembuh
Trauma dari serangan udara pada pertengahan Juni tahun lalu masih membekas kuat dalam ingatan kolektif. Malam itu, ibu kota Iran diguncang ledakan saat Israel melancarkan kampanye militer yang belum pernah terjadi sebelumnya, memicu pertukaran serangan yang berdarah. Ribuan nyawa melayang di Iran, sementara puluhan lainnya menjadi korban di pihak Israel. Peristiwa itu meninggalkan luka yang dalam, dan ketakutan akan pengulangan sejarah kini menghantui kehidupan sehari-hari.
“Saya tidak bisa tidur nyenyak di malam hari meskipun sudah minum obat,” tutur Hamid, seorang warga Teheran, mengungkapkan dampak psikologis yang ia rasakan.
Kekhawatirannya tidak hanya untuk dirinya sendiri, tetapi terutama tertuju pada generasi penerusnya. “Saya telah menjalani hidup saya, tetapi mereka belum melakukan hal baik apa pun dalam hidup mereka, mereka tidak bersenang-senang, tidak nyaman, tidak memiliki waktu luang, dan tidak memiliki kedamaian,” lanjutnya dengan nada haru. “Saya ingin mereka setidaknya merasakan hidup untuk sementara waktu. Tetapi saya takut mereka mungkin tidak mendapatkan kesempatan itu.”
Persiapan Menghadapi Ketidakpastian
Di tengah jalanan Teheran, naluri untuk bertahan hidup mulai terlihat. Bukan hanya kekhawatiran yang beredar, tetapi juga tindakan nyata. Hanieh, seorang perajin keramik berusia 31 tahun, telah menyimpan persediaan kebutuhan pokok di rumahnya. Ia menilai perang akan terjadi “dalam 10 hari”, merujuk pada ultimatum yang disampaikan oleh pihak Amerika Serikat.
“Saya semakin takut karena saya dan ibu saya mengalami banyak kesulitan selama perang 12 hari terakhir,” jelasnya, mengenang pahitnya pengungsian yang terpaksa mereka lakukan. “Kami harus pergi ke kota lain.”
Kekhawatiran serupa diungkapkan oleh Mina Ahmadvand, seorang teknisi IT berusia 46 tahun. Dengan keyakinan bahwa konflik sudah tak terhindarkan, ia telah mengambil langkah antisipasi. “Saya pikir pada tahap ini, perang antara Iran dan AS serta Israel tidak dapat dihindari dan saya telah mempersiapkan diri untuk kemungkinan itu,” ungkapnya.
Persiapannya cukup detail, mencerminkan kehati-hatian seseorang yang akrab dengan analisis risiko. “Saya membeli selusin makanan kaleng termasuk ikan tuna dan kacang-kacangan serta beberapa bungkus biskuit, air minum kemasan, dan beberapa baterai tambahan, di antara barang-barang lainnya,” paparnya.
Diplomasi di Tengah Ancaman
Latar belakang dari ketegangan ini adalah pembicaraan yang sedang berlangsung antara Iran dan Amerika Serikat. Pemerintah Iran bersikeras untuk membatasi pembahasan hanya pada isu nuklir, sementara Washington sebelumnya mendorong agar program rudal balistik dan dukungan Teheran kepada kelompok bersenjata di kawasan juga menjadi agenda. Jalur diplomasi ini berjalan di atas es yang tipis, dengan hasil yang masih sangat tidak pasti.
Ancaman terbuka dari Presiden AS Donald Trump, yang memperingatkan bahwa “hal-hak buruk” akan terjadi jika kesepakatan tidak tercapai dalam batas waktu tertentu, hanya menambah tekanan dan mempersulit iklim percakapan. Ultimatum yang awalnya 10 hari dan kemudian diperpanjang menjadi 15 hari itu menggantung seperti pedang di atas leher, mempercepat detak jantung warga yang mendambakan perdamaian.
Suasana di Teheran saat ini adalah gambaran nyata dari kehidupan di bawah ancaman konflik yang berlarut-larut. Di balik rutinitas kota metropolitan, tersimpan kecemapan akan masa depan, persediaan logistik darurat, dan harapan agar diplomasi dapat menemukan celah di tengah retorika perang. Cerita Hamid, Hanieh, dan Mina adalah potret kecil dari jutaan suara yang terdiam, menunggu dengan napas tertahan, sambil berharap malam ini mereka bisa tidur dengan tenang.
Artikel Terkait
Komisi III DPR Desak Penyidikan Tuntas Kasus Meninggalnya Nizam, Remaja 12 Tahun di Sukabumi
Kemenag Pacu Kesejahteraan Guru Agama Melalui Program Sertifikasi PPG
Pakistan Lancarkan Serangan Udara ke Afghanistan, Kabul Kecam Pelanggaran Kedaulatan
2.285 Personel Amankan Laga Persib vs Persita di GBLA