Warga Teheran Bersiap Hadapi Eskalasi Konflik di Tengah Ultimatum AS-Iran

- Minggu, 22 Februari 2026 | 12:05 WIB
Warga Teheran Bersiap Hadapi Eskalasi Konflik di Tengah Ultimatum AS-Iran

MURIANETWORK.COM - Ketegangan geopolitik yang kembali memuncak di Timur Tengah menebarkan kecemasan mendalam di tengah warga Teheran, Iran. Setelah konflik singkat namun mematikan dengan Israel setahun silam, ancaman eskalasi baru yang melibatkan Amerika Serikat membuat banyak penduduk ibu kota hidup dalam bayang-bayang ketakutan dan ketidakpastian. Laporan dari lapangan menggambarkan suasana hati warga yang waspada, dengan beberapa bahkan telah mulai mempersiapkan diri untuk skenario terburuk.

Luka Lama yang Belum Sembuh

Trauma dari serangan udara pada pertengahan Juni tahun lalu masih membekas kuat dalam ingatan kolektif. Malam itu, ibu kota Iran diguncang ledakan saat Israel melancarkan kampanye militer yang belum pernah terjadi sebelumnya, memicu pertukaran serangan yang berdarah. Ribuan nyawa melayang di Iran, sementara puluhan lainnya menjadi korban di pihak Israel. Peristiwa itu meninggalkan luka yang dalam, dan ketakutan akan pengulangan sejarah kini menghantui kehidupan sehari-hari.

“Saya tidak bisa tidur nyenyak di malam hari meskipun sudah minum obat,” tutur Hamid, seorang warga Teheran, mengungkapkan dampak psikologis yang ia rasakan.

Kekhawatirannya tidak hanya untuk dirinya sendiri, tetapi terutama tertuju pada generasi penerusnya. “Saya telah menjalani hidup saya, tetapi mereka belum melakukan hal baik apa pun dalam hidup mereka, mereka tidak bersenang-senang, tidak nyaman, tidak memiliki waktu luang, dan tidak memiliki kedamaian,” lanjutnya dengan nada haru. “Saya ingin mereka setidaknya merasakan hidup untuk sementara waktu. Tetapi saya takut mereka mungkin tidak mendapatkan kesempatan itu.”

Persiapan Menghadapi Ketidakpastian

Di tengah jalanan Teheran, naluri untuk bertahan hidup mulai terlihat. Bukan hanya kekhawatiran yang beredar, tetapi juga tindakan nyata. Hanieh, seorang perajin keramik berusia 31 tahun, telah menyimpan persediaan kebutuhan pokok di rumahnya. Ia menilai perang akan terjadi “dalam 10 hari”, merujuk pada ultimatum yang disampaikan oleh pihak Amerika Serikat.

Editor: Agus Setiawan


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar