Reaksi Internasional dan Komitmen Perjanjian Lama
Perubahan kebijakan yang cepat ini menuai reaksi beragam dari komunitas global. Analis perdagangan Wendy Cutler dari Asia Society menyoroti dampak ketidakpastian yang diciptakan bagi mitra dagang AS. Sementara itu, sejumlah pemimpin Eropa menyambut baik putusan Mahkamah Agung. Presiden Prancis Emmanuel Macron menilai keputusan itu menunjukkan pentingnya mekanisme penyeimbang kekuasaan.
"Putusan tersebut dapat meringankan beban perusahaan Jerman dan menegaskan bahwa tarif merugikan semua pihak," ungkap Kanselir Jerman Friedrich Merz.
Di tengah gejolak kebijakan baru, perjanjian dagang bilateral yang telah ditandatangani disebutkan akan tetap dihormati. Perwakilan dagang AS Jamieson Greer menegaskan bahwa ekspor dari negara seperti Malaysia dan Kamboja akan tetap dikenakan tarif 19 persen sesuai kesepakatan yang sudah ada. Posisi serupa disampaikan oleh negosiator Indonesia.
"Perjanjian tarif 19 persen yang ditandatangani Jumat tetap sah," tegas Airlangga Hartarto.
Bagi negara seperti Brasil yang belum menyepakati penurunan tarif, putusan pengadian justru berpotensi menguntungkan karena tarif yang dikenakan bisa turun menjadi 15 persen untuk sementara waktu.
Dampak Politik di Dalam Negeri
Isu tarif ini telah menjadi bahan perdebatan politik yang panas menjelang pemilu sela November. Survei terbaru menunjukkan tingkat persetujuan publik terhadap penanganan ekonomi Trump berada di angka 34 persen, sementara 57 persen responden menyatakan ketidaksetujuan. Partai Demokrat secara konsisten menuding bahwa kebijakan tarif berkontribusi pada kenaikan biaya hidup dan berupaya menjadikannya isu sentral untuk merebut kembali mayoritas di Dewan Perwakilan Rakyat AS.
Artikel Terkait
Atletico Hancurkan Barcelona 2-0 di Camp Nou, Tuan Rumah Terancam Tersingkir
PSG Kalahkan Liverpool 2-0, Kokohkan Posisi Jelang Leg Kedua
Harga Emas Perhiasan Tembus Rp2,4 Juta per Gram pada 9 April 2026
Kisah Mardi Rambo dan Pengorbanan Prajurit Garuda di Medan Perdamaian