Namun begitu, aksi yang terjadi sebelumnya jauh dari kata damai. Rekaman video yang beredar luas di media sosial memperlihatkan kemarahan ML. Dia terlihat merusak mikrofon yang digunakan untuk tadarusan. Tak hanya itu, ponsel milik warga yang merekam kejadian itu pun direbut paksa.
Keadaan makin memanas ketika pengurus dusun mendatanginya untuk meminta kembali ponsel warga. Bukannya mengembalikan, ML malah menolak dan mengancam dengan senjata tajam sejenis parang.
Lalu, terungkap satu fakta menarik. Rupanya, ML tinggal di vila yang sebelumnya ditempati orang tuanya. Orang tuanya sendiri dikabarkan sudah lebih dulu diusir oleh warga lokal. Jadi, dia seperti meneruskan ‘warisan’ masalah yang sudah ada.
Pasca kejadian itu, suasana di sekitar lokasi masih tegang. Polisi kini memasang pengamanan ekstra di sekitar mushala dan juga vila tempat ML tinggal. Mereka berjaga untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan terjadi lagi.
Di sisi lain, kasus ini jadi perhatian banyak pihak. Bukan cuma soal ketidakharmonisan dengan warga, tapi juga bagaimana seorang turis bisa dengan mudah melanggar aturan keimigrasian. Sekarang, urusannya bertambah: bukan hanya soal protes, tapi juga status hukumnya di Indonesia.
Artikel Terkait
PSG Kalahkan Liverpool 2-0, Kokohkan Posisi Jelang Leg Kedua
Harga Emas Perhiasan Tembus Rp2,4 Juta per Gram pada 9 April 2026
Kisah Mardi Rambo dan Pengorbanan Prajurit Garuda di Medan Perdamaian
Promotor Ungkap Tantangan Yakinkan Patrick Kluivert Tampil Lagi di Indonesia