Ancaman ini mempertegas ultimatum yang telah diberikannya sehari sebelumnya. Trump sebelumnya mengisyaratkan bahwa "hal-hal buruk" akan terjadi jika Teheran tidak menyepakati perjanjian pengendalian program nuklir dalam batas waktu yang ditetapkan, yang awalnya 10 hari lalu diperpanjang menjadi 15 hari. Peningkatan kekuatan angkatan laut ini secara terang-terangan ditujukan untuk memberi tekanan lebih besar pada pemerintah Iran.
Jalur Diplomasi yang Masih Berjalan
Di tengah retorika keras dan mobilisasi militer, saluran diplomasi antara kedua negara ternyata belum sepenuhnya terputus. Ancaman terbaru dari Washington justru muncul setelah adanya pembicaraan di Jenewa awal pekan ini. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan bahwa draf proposal untuk sebuah kesepakatan dengan AS sedang disiapkan.
"Saya yakin dalam dua atau tiga hari ke depan, itu akan siap, dan setelah konfirmasi akhir dari atasan saya, itu akan diserahkan kepada Steve Witkoff," jelas Araghchi, merujuk pada negosiator utama Trump untuk Timur Tengah.
Pernyataan ini mengindikasikan bahwa meski ancaman militer menggantung, proses negosiasi masih berlangsung. Kedua belah pihak disebut telah sepakat untuk saling menyerahkan draf perjanjian potensial sebagai langkah lanjutan. Situasi ini menempatkan kawasan Timur Tengah dalam kondisi genting, di mana ketegangan militer dan upaya perdamaian berjalan beriringan dalam waktu yang bersamaan.
Artikel Terkait
Oracle PHK Ribuan Karyawan demi Investasi AI, Tapi Gaji CFO Baru Capai Miliaran Rupiah
BEI Ungkap 9 Emiten dengan Kepemilikan Saham Terlalu Terkonsentrasi
Presiden Prabowo Dikawal Enam Jet Tempur dalam Penerbangan ke Magelang, Sambut HUT ke-80 TNI AU
Pemerintah Arahkan Motor Listrik untuk Pasar Domestik, Motor BBM Digenjot Ekspor