Utang Luar Negeri Indonesia Naik Jadi USD 431,7 Miliar, BI Pastikan Masih Terkendali

- Kamis, 19 Februari 2026 | 11:45 WIB
Utang Luar Negeri Indonesia Naik Jadi USD 431,7 Miliar, BI Pastikan Masih Terkendali

Soal penggunaannya, pemerintah memang klaim mengelola utang ini dengan sangat cermat. Tujuannya jelas: buat mendanai program-program prioritas dan menjaga kesehatan anggaran negara dalam jangka panjang. Dana itu dialokasikan ke sektor-sektor krusial.

Misalnya, yang paling besar jatahnya buat Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial, nyaris 22,1 persen. Lalu ada Administrasi Pemerintah dan Pertahanan (19,8 persen), Jasa Pendidikan (16,2 persen), Konstruksi (11,7 persen), serta Transportasi dan Pergudangan dapat 8,6 persen. Hampir semua utang pemerintah ini berjangka panjang, persentasenya nyaris 100 persen.

Di sisi lain, ceritanya agak berbeda untuk sektor swasta. ULN swasta justru turun tipis, dari 194,5 miliar dolar AS di triwulan III menjadi 192,8 miliar di triwulan IV. Penurunan ini terutama karena berkurangnya utang dari perusahaan non-keuangan.

Meski turun, sektor swasta masih punya porsi yang besar. Mayoritas utangnya berasal dari Industri Pengolahan, Jasa Keuangan, Pengadaan Listrik, serta Pertambangan. Empat sektor ini nyumbang hampir 80 persen dari total ULN swasta. Dan mirip dengan pemerintah, utang jangka panjang juga mendominasi di sini, meski porsinya sekitar 76,3 persen.

Lalu, sehat atau nggak sih struktur utang kita secara keseluruhan? BI menilai masih sehat. Ini terlihat dari rasio ULN terhadap PDB yang berada di level 29,9 persen. Selain itu, komposisi utang jangka panjang yang mendominasi mencapai 85,7 persen dari total juga dianggap sebagai indikator yang baik. Utang jangka panjang biasanya risikonya lebih terkendali dibanding yang jangka pendek.

Kedepannya, BI dan pemerintah tentu saja nggak bakal lengah. Koordinasi untuk memantau perkembangan utang luar negeri akan terus diperkuat. Prinsipnya, utang ini mau dioptimalkan buat mendukung pembangunan dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Tapi, ya itu, dengan tetap meminimalkan segala risiko yang bisa mengganggu stabilitas perekonomian nasional. Jalan tengah yang memang harus terus dijaga.

Editor: Yuliana Sari


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar