MURIANETWORK.COM - Peluang Atalanta di babak play-off Liga Champions masih terbuka lebar, meski harus menelan kekalahan 0-2 dari Borussia Dortmund di leg pertama. Demikian penegasan pelatih Raffaele Palladino seusai timnya ditundukkan di Signal Iduna Park, Rabu (19/2/2025) malam. Ia menyikapi hasil ini hanya sebagai "babak pertama" dari duel dua pertemuan, dengan keyakinan penuh bisa membalikkan keadaan di pertandingan kedua di kandang sendiri.
Laga yang tertunda 15 menit akibat bus tim tamu terjebak macet itu langsung berjalan buruk bagi Atalanta. Dortmund mencetak gol cepat melalui sundulan Serhou Guirassy di menit ketiga, sebelum Maximilian Beier menggandakan keunggulan tuan rumah sesaat sebelum jeda.
Fokus pada Pemain yang Tersedia
Menghadapi situasi sulit di kandang lawan, ditambah absennya dua pemain penting seperti Giacomo Raspadori dan Charles De Ketelaere karena cedera, Palladino menolak berkelit. Alih-alih mencari kambing hitam, ia memilih berkonsentrasi penuh pada skuad yang turun lapangan.
"Kami tidak boleh membicarakan siapa yang tidak ada di sini, melainkan berkonsentrasi pada siapa yang bermain," tuturnya kepada Sky Sport Italia. "Sangat disayangkan kami tertinggal 1-0 sejak awal. Kami tahu Borussia Dortmund adalah tim yang sangat bagus dengan individu kuat... mereka melepaskan umpan silang dan kami tidak melakukan penjagaan dengan benar pada gol tersebut."
Pelatih berusia 40 tahun itu juga merespons analisis mantan pelatih, Fabio Capello, yang mengkritik penerapan taktik man-to-man melawan Dortmund. Palladino mengakui kelemahan tersebut, namun tetap menuntut mental bertarung yang lebih baik dari anak asuhnya. Ia melihat permainan timnya terlalu lamban dan mudah ditebak di babak pertama, meski ada peningkatan yang nyata setelah turun minum.
Keyakinan untuk Leg Kedua di Kandang
Jalan menuju babak 16 besar kini terasa berat. Atalanta harus menang dengan selisih minimal dua gol saat menjamu Dortmund di Gewiss Stadium, Bergamo, pada 25 Februari mendatang. Namun, Palladino tampak tidak kehilangan keyakinan. Dukungan penuh dari La Dea, sebutan untuk Atalanta, dinilainya akan menjadi faktor penentu.
"Ini baru babak pertama, babak kedua akan dimainkan di kandang kami sendiri. Sama seperti mereka menyarangkan dua gol ke gawang kami malam ini, kami juga bisa melakukan hal yang sama di Bergamo," tegasnya dengan nada optimistis.
Ia juga mengambil pelajaran dari efisiensi mematikan Dortmund yang mencetak dua gol hanya dari dua tembakan tepat sasaran. "Kami harus berpikir positif. Impian kami adalah lolos, dan jika kami tidak berhasil, kami akan tahu kami telah memberikan segalanya," lanjut Palladino, menutup pernyataannya dengan semangat pantang menyerah.
Klarifikasi Insiden dengan Nico Kovac
Pertandingan malam itu ditutup dengan insiden kecil, di mana Palladino langsung meninggalkan lapangan tanpa berjabat tangan dengan pelatih Dortmund, Nico Kovac. Sang pelatih kemudian memberikan klarifikasi bahwa tindakannya dipicu oleh sikap protes berlebihan dari staf lawan di sisi lapangan selama pertandingan berlangsung.
"Saya tidak suka dengan protes-protes mereka, mereka mengeluh untuk setiap hal kecil di pinggir lapangan. Saya mencoba membiarkan wasit melakukan tugasnya, dalam suka maupun duka, jadi saya hanya mengatakan kepadanya bahwa dia seharusnya membiarkan wasit bekerja," ungkap Palladino menjelaskan sikapnya.
Kini, tugas berat menanti tim asal Italia itu. Mereka harus memulihkan kondisi fisik dan mental dalam waktu singkat untuk membalikkan defisit dan mempertahankan asa melangkah lebih jauh di Liga Champions. Suasana di Bergamo pekan depan dipastikan akan berlangsung panas dan penuh tensi.
Artikel Terkait
Satpol PP Bogor Amankan 9 Orang dalam Razia Prostitusi Terselubung Jelang Ramadan
Pasar Kendaraan Listrik Indonesia Diproyeksikan Tumbuh Meski Tanpa Insentif Fiskal
Karyawan BUMD Bengkalis Jadi Tersangka Perambahan Hutan Pemicu Karhutla
Persijap Jepara Rotasi Pelatih dan Direktur Teknik, Mario Lemos Kembali Jadi Pelatih Kepala