Paus Leo XIV Pimpin Via Crucis dengan Memikul Salib di Koloseum, Tiru Tradisi Yohanes Paulus II

- Sabtu, 04 April 2026 | 14:45 WIB
Paus Leo XIV Pimpin Via Crucis dengan Memikul Salib di Koloseum, Tiru Tradisi Yohanes Paulus II

Roma, Jumat Agung. Cahaya ribuan lilin berkedip-kedip di sekitar arena Koloseum yang megah, menyaksikan sebuah peristiwa langka. Paus Leo XIV dengan khidmat memikul salib kayu, memimpin prosesi Via Crucis atau Jalan Salib. Langkahnya pelan, diiringi heningnya malam dan doa puluhan ribu umat yang memadati lokasi bersejarah itu.

Ini bukan pemandangan biasa. Menurut laporan Vatican News (4 April 2026), Paus Leo XIV tercatat sebagai Paus kedua dalam sejarah modern setelah almarhum Paus Yohanes Paulus II yang secara pribadi memikul salib sepanjang ritual tersebut. Jejaknya mengingatkan pada sebuah tradisi yang penuh makna.

Suasana malam itu sungguh menghanyutkan. Sekitar 30.000 orang hadir langsung, berdiri berdesakan di bawah langit Roma. Namun, mereka yang hadir hanyalah sebagian kecil. Jutaan umat lain di seluruh dunia menyatukan hati melalui siaran televisi, radio, dan berbagai platform digital, mengikuti setiap detik dari rumah masing-masing.

Koloseum sendiri bukan sekadar bangunan tua. Dibangun di era Kaisar Vespasian dan diresmikan oleh Titus sekitar tahun 80 Masehi, situs ikonis ini telah bertransformasi. Kini, ia menjadi salah satu titik ziarah paling sentral bagi umat Katolik, terutama saat mengenang 14 Stasiun Sengsara Yesus.

Di tengah kesunyian yang terasa berat, suara Pastor Patton mengalun membawakan renungan. Ia menekankan pentingnya kerendahan hati, sebuah nilai yang kerap terlupakan di tengah gemerlap dunia. Tak hanya itu, ia juga menyentil bahaya penyalahgunaan wewenang dan sikap otoriter yang merajalela.

Kritiknya tajam. Ia menyoroti ketidakpedulian serta segala bentuk perilaku yang merendahkan harkat dan martabat manusia.

“Air mata Maria mengajarkan kita untuk tetap menjadi manusia,” ucap Pastor Patton, kata-katanya menggema di antara dinding batu kuno.

Prosesi pun berakhir. Paus Leo XIV kemudian memimpin doa penutup, mengajak semua yang hadir baik secara fisik maupun dalam hati untuk hidup dalam kasih dan memperkuat persekutuan iman. Malam di Roma itu berakhir, tetapi pesannya terus bergulir, jauh melampaui batas-batas kota abadi tersebut.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar