Bayangkan saja, terasa tak adil bukan? Jika seseorang, karena keyakinan atau kondisi tertentu tidak berpuasa, lalu kesulitan mencari tempat makan karena semua tutup. “Kan nggak mungkin gara-gara kita puasa, maka semuanya harus merasakan puasa,” katanya dengan nada tenang namun tegas.
Poinnya bukan memaksa keseragaman. Justru sebaliknya.
“Dalam arti yang nggak puasa pun karena keyakinan yang berbeda, harus tidak bisa makan, tidak bisa minum dan sebagainya. Tapi harus dipertimbangkan para koridor, membangun kebersamaan, membangun kekompakan, saling menghormati sehingga persatuan kita tidak terganggu karena perbedaan-perbedaan,” sambung Syafi’i.
Pesan akhirnya jelas: kekompakan dan persatuan jauh lebih utama. Perbedaan dalam menjalankan ibadah jangan sampai merusak harmoni yang sudah terjalin. Itulah kunci Ramadan yang penuh toleransi.
Artikel Terkait
Lebih dari 55 Siswa Keracunan, BGN Tangguhkan Dapur Makan Bergizi Gratis di Pondok Kelapa
Polisi Lacak Pelaku Insiden Senggol dan Rebut Kunci di Tol Kemayoran
Gubernur Pramono Soroti Peran Muhammadiyah dalam Modernisasi Tradisi Halal Bihalal
Lebih dari 45% Perusahaan Transportasi Rusia Sudah Gunakan AI, Regulasi Masih Tertinggal