"Itu sekitar satu ton lebih ikan pada mengambang semua mati. Jadi saya lebih baik tidak melaut," ujarnya.
Keputusan untuk tidak melaut bukan hanya soal berkurangnya stok ikan, melainkan juga didorong oleh rasa tanggung jawab dan kehati-hatian. Para nelayan khawatir, ikan yang mungkin masih hidup di perairan tersebut telah terkontaminasi zat berbahaya. Mereka tidak ingin menjual produk yang berpotensi membahayakan kesehatan masyarakat.
Menanti Kepastian dan Informasi dari Pemerintah
Ketiadaan informasi resmi yang jelas mengenai tingkat keamanan perairan menjadi sumber kecemasan utama bagi komunitas pesisir. Tanpa kepastian itu, roda ekonomi warga yang bergantung pada laut tetap terhenti.
"Jadi pembeli juga takut makan ikannya, takut ikannya terkena limbah. Saat ini kita lagi tunggu informasi dari pemerintah, apakah tempat kita melaut ini sudah benar-benar bersih atau masih ada zat kimianya," jelas Sahlan.
Insiden ini semakin mendapat sorotan setelah video yang menunjukkan biota laut mati bertebaran di pesisir Tangerang viral di media sosial. Publik pun mulai menghubungkan peristiwa ini dengan kebakaran gudang pestisida milik PT Biotek Saranatama di Tangerang Selatan, yang diduga menjadi sumber awal pencemaran residu kimia ke aliran sungai dan akhirnya ke laut.
Artikel Terkait
Komisi III DPR Tegaskan Putusan Bebas Videografer Amsal Sitepu Sudah Berkekuatan Hukum Tetap
Rumah di Cempaka Putih Dibobol Maling Saat Kosong, Laptop hingga Koleksi Topi Raib
MPL ID Season 17: RRQ Hoshi dan Alter Ego Berjuang Bangkit di Pekan Kedua
Komnas HAM Segera Panggil Empat Anggota TNI Tersangka Penyiran Air Keras Aktivis KontraS