Pasar Saham AS Berakhir Bervariasi Usai Ketegangan Timur Tengah Mereda

- Jumat, 03 April 2026 | 07:50 WIB
Pasar Saham AS Berakhir Bervariasi Usai Ketegangan Timur Tengah Mereda

Pasar saham AS kemarin tutup dengan pergerakan yang beragam. Setelah sempat terpuruk cukup dalam, indeks-indeks utama berhasil memangkas sebagian besar kerugiannya di akhir sesi perdagangan Kamis. Rupanya, ada secercah harapan yang datang dari Timur Tengah.

Sentimen sempat memanas setelah ancaman keras dari Presiden Donald Trump ke Iran, tepat sebelum libur panjang akhir pekan. Tapi suasana mulai berubah di sore hari. Kementerian Luar Negeri Iran memberi sinyal diplomatik, menyatakan sedang menyusun protokol dengan Oman untuk mengatur lalu lintas di Selat Hormuz. Kabar itu langsung meredam kepanikan.

Di sisi lain, Inggris juga ikut mendinginkan situasi. Puluhan negara, kata mereka, sedang berdiskusi mencari jalan keluar dari krisis ini. Kombinasi berita itu cukup melegakan investor yang khawatir pasokan minyak global bakal terganggu berkepanjangan.

“Pasar saat ini tidak punya keyakinan kuat ke mana arahnya,” kata Michael Antonelli, seorang ahli strategi di Baird.

“Tapi lihat saja harga minyak untuk kontrak Oktober. Itu menunjukkan pasar memperkirakan krisis ini kemungkinan besar selesai sebelum musim gugur,” tambahnya.

Faktanya, harga minyak sempat melonjak liar. Minyak mentah AS naik 11 persen, nyentuh level USD111 per barel. Brent, patokan internasional, juga naik 7 persen mendekati USD108. Tapi anehnya, harga untuk pengiriman Oktober jauh lebih rendah, sekitar USD82. Itu jelas sinyal dari para trader bahwa gejolak ini dianggap cuma sementara.

Secara keseluruhan, pekan ini justru catat kenaikan. Indeks S&P 500 naik 3,36 persen, Nasdaq melompat 4,44 persen, dan Dow menguat 2,96 persen. Bahkan, ini jadi kenaikan mingguan pertama dalam enam pekan terakhir dan yang terbesar dalam empat bulan.

Di lantai bursa, pergerakan hari Kamis sendiri cukup beragam. Dow Jones akhirnya turun tipis 0,13 persen ke level 46.504,67. Sementara S&P 500 dan Nasdaq masih mampu naik, masing-masing 0,11 persen dan 0,18 persen. Indeks ketakutan VIX pun mereda, turun ke posisi 23,87.

Pola tradingnya menarik. Investor terlihat bermain aman, lari ke sektor-sektor yang dianggap lebih tahan banting. Saham utilitas, yang dikenal dengan dividen stabil, naik 0,6 persen. Sektor properti malah lebih ganas, melonjak 1,5 persen, mungkin karena dianggap sebagai sumber arus kas yang andal di tengah ketidakpastian.

Tapi tidak semua sektor beruntung. Saham barang konsumsi diskresioner justru terpuruk 1,5 persen, jadi yang terburuk kinerjanya. Penurunan didorong oleh Tesla yang anjlok 5,4 persen setelah rilis angka pengiriman kuartal pertamanya yang mengecewakan.

Selain geopolitik, ada juga kekhawatiran dari sisi kredit swasta. Blue Owl membatasi penarikan dana dari dua produk ritelnya, yang langsung bikin investor waswas. Sahamnya pun jadi salah satu yang paling sibuk diperdagangkan hari itu.

Volume perdagangan secara keseluruhan tercatat 16,75 miliar saham agak sepi dibanding rata-rata 20 hari terakhir yang mencapai 17,82 miliar. Mungkin banyak yang sudah mempersiapkan diri untuk libur Jumat Agung.

Oh ya, satu lagi yang bakal disorot pekan depan: kabar IPO rahasia SpaceX milik Elon Musk. Perusahaan itu dikabarkan mengajukan penawaran umum dengan target valuasi fantastis, USD1,75 triliun. Pasti bakal ramai dibicarakan.

Jadi, pasar minggu ini ditutup dengan napas lega. Setelah goncangan di awal, ketegangan geopolitik sedikit mereda dan investor menikmati kenaikan mingguan yang cukup berarti. Tapi semua masih menunggu, apa yang akan terjadi setelah liburan usai.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar