Pasar saham AS kemarin tutup dengan pergerakan yang beragam. Setelah sempat terpuruk cukup dalam, indeks-indeks utama berhasil memangkas sebagian besar kerugiannya di akhir sesi perdagangan Kamis. Rupanya, ada secercah harapan yang datang dari Timur Tengah.
Sentimen sempat memanas setelah ancaman keras dari Presiden Donald Trump ke Iran, tepat sebelum libur panjang akhir pekan. Tapi suasana mulai berubah di sore hari. Kementerian Luar Negeri Iran memberi sinyal diplomatik, menyatakan sedang menyusun protokol dengan Oman untuk mengatur lalu lintas di Selat Hormuz. Kabar itu langsung meredam kepanikan.
Di sisi lain, Inggris juga ikut mendinginkan situasi. Puluhan negara, kata mereka, sedang berdiskusi mencari jalan keluar dari krisis ini. Kombinasi berita itu cukup melegakan investor yang khawatir pasokan minyak global bakal terganggu berkepanjangan.
“Pasar saat ini tidak punya keyakinan kuat ke mana arahnya,” kata Michael Antonelli, seorang ahli strategi di Baird.
“Tapi lihat saja harga minyak untuk kontrak Oktober. Itu menunjukkan pasar memperkirakan krisis ini kemungkinan besar selesai sebelum musim gugur,” tambahnya.
Faktanya, harga minyak sempat melonjak liar. Minyak mentah AS naik 11 persen, nyentuh level USD111 per barel. Brent, patokan internasional, juga naik 7 persen mendekati USD108. Tapi anehnya, harga untuk pengiriman Oktober jauh lebih rendah, sekitar USD82. Itu jelas sinyal dari para trader bahwa gejolak ini dianggap cuma sementara.
Secara keseluruhan, pekan ini justru catat kenaikan. Indeks S&P 500 naik 3,36 persen, Nasdaq melompat 4,44 persen, dan Dow menguat 2,96 persen. Bahkan, ini jadi kenaikan mingguan pertama dalam enam pekan terakhir dan yang terbesar dalam empat bulan.
Artikel Terkait
KB Bank Bangkit dari Kerugian Triliunan, Catat Laba Rp66,59 Miliar di 2025
BEI Umumkan Daftar 10 Saham dengan Kepemilikan Paling Terkonsentrasi
Komisaris Independen Lim Bing Tjay Mundur dari Erajaya Swasembada
Bank Danamon Bagikan Dividen Rp1,39 Triliun untuk Tahun 2025