Dari sisi maritim, upaya serupa dijalankan oleh PT Pertamina International Shipping (PIS). Mereka mulai pakai bahan bakar yang lebih ramah lingkungan untuk armada kapal dan punya program CSR yang fokus pada pelestarian biota laut. Pendekatan lintas entitas ini menunjukkan bahwa isu energi dan kelautan harus dilihat secara terpadu. Keberlanjutan laut ditentukan juga oleh cara kita memproduksi dan menggunakan energi.
Tapi, sebagaimana mengemuka di forum Bali, transisi energi tak bisa jalan sendiri. Diperlukan regulasi yang jelas, pembiayaan berkelanjutan, alih teknologi, dan yang paling krusial: keterlibatan masyarakat lokal. Tanpa itu, transisi bisa jadi tidak adil.
Aditya Dewobroto, Vice President Strategy & Portfolio Pertamina NRE, menekankan hal ini.
"Indonesia punya potensi energi bersih yang sangat besar. Tantangannya adalah bagaimana memastikan transisi ini berjalan terencana, terukur, dan melibatkan berbagai pihak. Transisi energi bukan hanya soal membangun pembangkit, tetapi membangun ekosistem," ujarnya.
Pada akhirnya, Bali Ocean Days 2026 mengajarkan satu hal: diskusi tentang laut tak bisa lepas dari energi, iklim, dan pembangunan. Pertumbuhan ekonomi dan keberlanjutan bukan lagi dua kutub yang bertentangan, melainkan harus berjalan beriringan.
Bagi Indonesia, menjaga laut berarti mengelola pembangunan dengan lebih bijak. Dan mempercepat transisi energi adalah salah satu jalur penting untuk mencapainya. Pesan dari Bali jelas: energi bukan cuma soal pasokan listrik, tapi soal keberlanjutan hidup, kolaborasi, dan masa depan bangsa.
Artikel Terkait
Komnas HAM Terima 12 Laporan Ancaman Usai Kasus Penyegelan Aktivis KontraS
UNIFIL Gelar Upacara Penghormatan Terakhir untuk Tiga Prajurit TNI Gugur di Lebanon
Gempa M 7,6 Guncang Bitung, Picu Tsunami Kecil di Sembilan Titik
Kazakhstan Resmi Miliki Konstitusi Baru Usai Referendum Dukungan Mayoritas