"Ini langkah darurat," tegas Asep.
Ia memaparkan bahwa penaburan karbon aktif bertujuan mengikat sisa residu kimia yang ada. Dengan cara ini, proses stabilisasi kontaminan di air bisa lebih cepat, sekaligus mencegah partikel berbahaya hanyut terbawa arus atau air hujan lebih jauh lagi.
Asep juga memberikan imbauan keras kepada masyarakat. Ia meminta warga untuk sementara waktu tidak memancing atau mengonsumsi ikan dari aliran sungai yang terdampak. "Ini untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, seperti keracunan," jelasnya.
Bagi warga yang merasa terganggu atau punya keluhan kesehatan, layanan pemeriksaan tersedia di puskesmas dan posko kesehatan terdekat. Pihaknya mengaku terus mengumpulkan data lingkungan dan kesehatan sebagai bahan pertimbangan untuk menentukan langkah selanjutnya.
Peristiwa yang memicu semua ini adalah kebakaran hebat di pabrik pestisida di Kecamatan Setu itu, yang terjadi pada Senin, 9 Februari lalu. Api sulit dipadamkan karena berasal dari bahan kimia. Dua truk pasir akhirnya dikerahkan petugas. Butuh waktu tujuh jam berjuang sebelum api benar-benar padam.
Artikel Terkait
Dude Herlino dan Alyssa Soebandono Diperiksa Bareskrim Terkait Kasus PT DSI Rp 2,4 Triliun
Dua Juru Parkir Dibacok di Samarinda, Pelaku Masih Buron
Gempa M 7,6 Guncang Sulut, BMKG Deteksi Tsunami di Halmahera Barat dan Bitung
Gempa M 7,6 Guncang Bitung, BMKG Keluarkan Peringatan Tsunami untuk Malut dan Sulut