Jawa Timur Jadi Provinsi Pertama Deklarasi Bersinar, BNN Soroti Ancaman 175 Jenis Narkoba Baru

- Jumat, 13 Februari 2026 | 20:45 WIB
Jawa Timur Jadi Provinsi Pertama Deklarasi Bersinar, BNN Soroti Ancaman 175 Jenis Narkoba Baru

Di Balai Budaya Surabaya, Jumat (13/2/2026) lalu, suasana tampak khidmat. Kepala BNN Komjen Suyudi Ario Seto hadir dalam peluncuran program 'Jawa Timur Bersinar'. Acara yang juga diramaikan oleh Menteri Desa-PDT Yandri Susanto dan Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa ini dinilai Suyudi sebagai langkah strategis. Komitmen pemprov, katanya, bakal memperkuat layanan BNN di daerah. Soalnya, saat ini kehadiran BNNK baru mencakup 34% dari 514 wilayah di Indonesia.

"Jawa Timur mencatatkan diri sebagai provinsi pertama di Indonesia yang mendeklarasikan diri sebagai 'Provinsi Bersinar'," ujar Suyudi.

Menurutnya, ini berarti seluruh kabupaten dan kota kini bersatu dalam satu komando untuk melawan narkoba.

Namun begitu, tantangan yang dihadapi tidak kecil. Suyudi mengungkap ada 175 jenis narkotika baru yang sudah menyusup ke Indonesia. Salah satunya liquid vape berisi narkoba, yang statusnya kini sudah ditetapkan sebagai narkotika golongan II. Belum lagi tren berbahaya di kalangan remaja.

"Fenomena viral penggunaan gas nitrous oxide atau gas whip pink itu bukan kenakalan biasa," tegasnya.

Itu ancaman serius yang bisa picu kerusakan saraf permanen, hipoksia, bahkan kematian mendadak.

Secara geografis, Jawa Timur memang rawan. Sebagai pintu gerbang timur Pulau Jawa, provinsi ini punya garis pantai panjang dan banyak 'pelabuhan tikus'. Celah inilah yang sering dimanfaatkan untuk modus penyelundupan ship to ship. Data di lapangan pun menunjukkan ketimpangan yang nyata.

"Dari 38 kabupaten/kota, baru 18 yang punya BNNK," papar Suyudi.

Lalu, hingga 2025, baru 265 'Desa Bersinar' yang terbentuk dari total 8.494 desa.

Di sisi lain, Gubernur Khofifah menegaskan bahwa pemberantasan narkoba adalah agenda nasional yang mendesak. Ia menyebut 2,11% dari total populasi Jatim telah terpapar.

"Data nasional per awal tahun 2026 sangat mengkhawatirkan, di mana tercatat sekitar 4,11 juta penduduk atau 2,11% dari total populasi telah terpapar narkotika," ujar Khofifah.

"Kondisi Jawa Timur juga mendesak dengan catatan 5.924 kasus pengungkapan tindak pidana narkotika sepanjang tahun 2025, membuktikan bahwa ini adalah 'extraordinary crime' yang butuh penanganan luar biasa," sambungnya.

Narkoba Isu Kemanusiaan, Bukan Sekadar Kriminalitas

Pernyataan Suyudi di Surabaya sejalan dengan pandangannya sebelumnya. Ia kerap menekankan bahwa pemberantasan narkoba adalah bagian dari pelaksanaan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, sekaligus syarat mutlak untuk membangun SDM unggul.

"Berperang terhadap narkoba demi kemanusiaan tentunya sejalan dengan Asta Cita Bapak Presiden," kata Suyudi dalam sebuah jumpa pers di Bareskrim Polri, Jakarta Selatan, Rabu (22/10) lalu.

Mantan Kapolda Banten itu punya perspektif kuat. Baginya, masalah ini harus dilihat lebih dalam.

"Narkoba dipandang sebagai isu kemanusiaan bukan hanya sekadar kriminalitas," ujarnya.

Artinya, pengguna narkoba adalah korban yang perlu disembuhkan lewat rehabilitasi, bukan langsung dijebloskan ke penjara.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar