Dedi Mulyadi Buka Suara Soal Polemik Gapura Baru Gedung Sate

- Senin, 24 November 2025 | 07:15 WIB
Dedi Mulyadi Buka Suara Soal Polemik Gapura Baru Gedung Sate

Renovasi gapura Gedung Sate di Bandung tiba-tiba jadi perbincangan hangat. Banyak yang protes, banyak pula yang bertanya-tanya. Di tengah hiruk-pikuk itu, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi akhirnya angkat bicara.

Bersama Sigit, arsitek dari ITB yang menangani proyek ini, dia menjelaskan panjang lebar. Mereka berdua tampak santai berdiskusi sambil meninjau langsung pembangunan yang sedang berlangsung.

Menurut Dedi, banyak orang mengira desain kontroversial ini adalah idenya pribadi. Padahal, jauh dari itu.

"Jadi yang gambar bukan saya. Kalau di Lembur Pakuan yang gambar saya," tegas Dedi saat meninjau Gedung Sate, Sabtu (22/11/2025). "Di sini harus lewat DED dulu, tidak bisa asal."

Proses perencanaannya melalui Detail Engineering Design yang ketat. Soal anggaran sekitar Rp 3,9 miliar, Dedi menjelaskan itu berasal dari efisiensi berbagai pos mulai dari biaya perjalanan dinas sampai pengadaan seragam.

Di sisi lain, Sigit mencoba meluruskan kesalahpahaman yang beredar. Dia bilang, sebenarnya tidak banyak yang tahu kalau Gedung Sate sejak awal memang perpaduan berbagai budaya.

Pemerintah Kolonial Belanda dulu menggabungkan arsitektur Eropa dengan unsur Nusantara, termasuk Sunda. Tapi kebanyakan orang cuma lihat sisi Eropanya saja.

Perhatikan saja detail-detail kecilnya. Gaya candi terlihat jelas di dinding bawah, pintu gerbang utama, sampai ornamen di atas gerbang. Semua itu sudah ada sejak gedung ini dibangun lebih dari seratus tahun lalu.

"Jadi Gedung Sate ini banyak unsur arsitektur Eropa, tapi juga banyak arsitektur lokalnya," jelas Sigit. "Lihat saja pintu masuknya, modelnya seperti candi. Bahkan di jendela tengah ada relief candi. Nah, itu yang jadi referensi kami."

Dia pun menegaskan, gapura baru ini bukan Candi Bentar ala Majapahit atau Demak. Bentuknya tidak terbelah dua, melainkan menyatu persis meniru bentuk jendela tengah gedung utama.

Menariknya, gapura ini dibangun dengan bata khusus dari Madura. Tekniknya pun tradisional, tanpa semen, hanya mengandalkan sistem pengunci seperti pada Candi Jiwa di Indramayu atau Candi Cangkuang di Garut.

Ke depan, gapura akan dicat putih agar selaras dengan gedung utama. Dan siapa tahu, pembangunan serupa di tempat lain bisa menggunakan tanah dari Plered Purwakarta atau Jatiwangi Majalengka tentu setelah diteliti lebih dulu.

Dedi Mulyadi hanya geleng-geleng melihat reaksi netizen. Baginya, ini bukti kalau sesuatu yang bernilai budaya tinggi selalu memantik perdebatan.

"Sesuatu yang bernilai tinggi kemudian berasal dari nilai-nilai kebudayaan kita, pasti ribut," ujarnya, menyindir mereka yang seolah alergi dengan warisan sendiri.

Yang jelas, kontroversi ini membuka mata banyak orang tentang kekayaan arsitektural Gedung Sate yang selama ini mungkin terabaikan.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar