Air memang sudah surut di Babakan Madang, Bogor. Tapi bekasnya? Rasanya masih melekat di benak warga. Kekhawatiran bahwa bencana serupa bisa terulang kapan saja, sulit diusir begitu saja dari pikiran.
Rudi, seorang warga berusia 53 tahun dari Desa Cijayanti, mengakuinya. Setiap kali langit mendung dan hujan deras mengguyur, rasa was-was itu langsung datang.
Dia bercerita soal banjir dua hari lalu. Menurut pengamatannya, air mulai naik dengan cepat sekitar pukul lima sore. Tingginya kira-kira mencapai 1,2 meter di dalam rumahnya. Semua terjadi dalam sekejap.
Waktu itu, Rudi bersama anak-anaknya. Mereka langsung bergegas membereskan rumah dan menyelamatkan barang-barang yang masih bisa diangkat. Untungnya, banjir tak berlangsung lama. Air mulai surut selepas Magrib. Meski alas tidurnya basah kuyup, dia memilih bertahan di rumah.
Perasaan serupa juga dialami Suryati, warga lain yang sudah menetap di sana selama tujuh tahun. Hujan deras, meski cuma sejam, langsung bikin hati berdebar.
Semua pekerjaan ditinggalkan. Dia akan sibuk mencari informasi, mengecek kondisi air di titik-titik terdekat. Bahkan hujan setengah jam saja, jika lebat, sudah cukup membuatnya panik.
Harapannya sekarang cuma satu: relokasi ke tempat yang lebih aman. Suaranya terdengar lesu saat mengungkapkan kelelahan itu.
Artikel Terkait
Kontroversi Penalti Akhiri Upaya Timnas Indonesia di Final FIFA Series
Angin Puting Beliung Terjang Kudus, 221 Rumah Rusak di Empat Desa
DKI Mulai Bangun Zebra Cross di Tebet, Respons Atas Inisiatif Warga
Guru MTs di Depok Diduga Sebar Brosur Jasa Seksual, Mengidap HIV Sejak 2014