Warga Bogor Hidup dalam Kecemasan Usai Banjir, Nantikan Janji Normalisasi

- Jumat, 13 Februari 2026 | 12:40 WIB
Warga Bogor Hidup dalam Kecemasan Usai Banjir, Nantikan Janji Normalisasi

Air memang sudah surut di Babakan Madang, Bogor. Tapi bekasnya? Rasanya masih melekat di benak warga. Kekhawatiran bahwa bencana serupa bisa terulang kapan saja, sulit diusir begitu saja dari pikiran.

Rudi, seorang warga berusia 53 tahun dari Desa Cijayanti, mengakuinya. Setiap kali langit mendung dan hujan deras mengguyur, rasa was-was itu langsung datang.

"Was-was jadi nggak tenang kalau hujan deras," ujarnya, Jumat (13/2/2026). "Barang elektronik rusak, kulkas, TV, dispenser. Untung kalau motor bisa diselamatkan."

Dia bercerita soal banjir dua hari lalu. Menurut pengamatannya, air mulai naik dengan cepat sekitar pukul lima sore. Tingginya kira-kira mencapai 1,2 meter di dalam rumahnya. Semua terjadi dalam sekejap.

"Saya langsung masuk ke dalam, semua pada rusak. Pada jebol ubin, Sanyo mati," tuturnya.

Waktu itu, Rudi bersama anak-anaknya. Mereka langsung bergegas membereskan rumah dan menyelamatkan barang-barang yang masih bisa diangkat. Untungnya, banjir tak berlangsung lama. Air mulai surut selepas Magrib. Meski alas tidurnya basah kuyup, dia memilih bertahan di rumah.

"Nggak pakai alas, di ubin doang," jelasnya singkat.

Perasaan serupa juga dialami Suryati, warga lain yang sudah menetap di sana selama tujuh tahun. Hujan deras, meski cuma sejam, langsung bikin hati berdebar.

"Asal hujan satu jam aja kita mulai ketar-ketir," bebernya. "Udah keluar masuk keluar masuk, melihat posisi air udah masuk apa belum."

Semua pekerjaan ditinggalkan. Dia akan sibuk mencari informasi, mengecek kondisi air di titik-titik terdekat. Bahkan hujan setengah jam saja, jika lebat, sudah cukup membuatnya panik.

Harapannya sekarang cuma satu: relokasi ke tempat yang lebih aman. Suaranya terdengar lesu saat mengungkapkan kelelahan itu.

"Udah capek hati, capek pikiran, cape tenaga, capek segala-galanya."

Saat banjir menerjang, Suryati sedang tidak di rumah. Dia ada di Kecamatan Gunung Putri. Pulang, keadaan sudah kacau balau. Warga dan petugas berkerumun membersihkan lumpur. Kerusakan di rumahnya parah.

"Keramik ngelupas semua, tembok jebol, pintu kamar jebol," katanya.

Kini, meski air sudah tak ada, sisa lumpur dan kerusakan bangunan masih menjadi saksi bisu. Perbaikan pun belum sepenuhnya dilakukan.

Janji Normalisasi dari Pemerintah

Di sisi lain, pemerintah daerah mulai bicara soal penanganan. Bupati Bogor, Rudy Susmanto, mengungkapkan bahwa banjir di Cijayanti kerap terjadi karena luapan air yang langsung masuk ke jalan saat hujan deras.

"Maka beberapa alat berat milik Dinas PUPR, sudah kita geser ke waduk atau situ," kata Rudy kepada wartawan, Jumat (13/2).

Dia menyebut upaya penanganan awal akan dilakukan untuk mencegah terulangnya kejadian. Normalisasi sungai dan situ menjadi prioritas.

"Walaupun kewenangan ada di BBWS, tapi karena menyangkut keselamatan orang banyak, maka kami Pemkab Bogor mengambil alih apa yang bisa kami lakukan terlebih dahulu," ucapnya tegas.

Janji itu kini dinanti warga. Sembari membersihkan sisa lumpur di rumah mereka, dan menatap langit setiap kali mendung mulai datang.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar