Konsep kerjanya sederhana tapi punya dampak besar. Sekitar 60-80 persen lahan tetap dipertahankan sebagai hutan mangrove. Sisanya, sekitar 20-40 persen, baru dimanfaatkan untuk parit atau kolam budidaya ikan, udang, dan kepiting.
Di sisi lain, peran mangrove sendiri sungguh krusial. Ia bukan sekadar peneduh atau penahan abrasi. Akune memaparkan fungsinya lebih jauh.
"Mangrove ini sangat penting karena berfungsi sebagai penyaring alami, menjaga kualitas air, dan menyediakan nutrisi bagi biota. Dengan sistem ini, kebutuhan pakan tambahan dan obat-obatan bisa ditekan, sehingga budidaya menjadi lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan," paparnya.
Jadi, selain mencegah bencana hidrometeorologi, mangrove dalam sistem ini menjadi tulang punggung ekologi yang menopang produktivitas. Sebuah simbiosis mutualisme antara konservasi dan ekonomi. Jika diterapkan, harapannya kawasan itu tak hanya hijau tapi juga menghidupi masyarakat sekitar secara bertanggung jawab.
Artikel Terkait
Pemudik Sumbar Modifikasi Motor Jadi Replika Rumah Gadang dari Limbah Plastik
DPR Gelar RDPU Soal Kasus Videografer Amsal Sitepu Besok
Tiket Whoosh Tembus 293 Ribu untuk Mudik Lebaran 2026
Bareskrim Sita Rp 55 Miliar dari Kasus Judi Online, Berkas Dinyatakan Lengkap