Pakar Jepang Usulkan Sistem Silvofishery untuk Mangrove Sungai Tiram Bintan

- Kamis, 12 Februari 2026 | 03:30 WIB
Pakar Jepang Usulkan Sistem Silvofishery untuk Mangrove Sungai Tiram Bintan

Konsep kerjanya sederhana tapi punya dampak besar. Sekitar 60-80 persen lahan tetap dipertahankan sebagai hutan mangrove. Sisanya, sekitar 20-40 persen, baru dimanfaatkan untuk parit atau kolam budidaya ikan, udang, dan kepiting.

Di sisi lain, peran mangrove sendiri sungguh krusial. Ia bukan sekadar peneduh atau penahan abrasi. Akune memaparkan fungsinya lebih jauh.

"Mangrove ini sangat penting karena berfungsi sebagai penyaring alami, menjaga kualitas air, dan menyediakan nutrisi bagi biota. Dengan sistem ini, kebutuhan pakan tambahan dan obat-obatan bisa ditekan, sehingga budidaya menjadi lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan," paparnya.

Jadi, selain mencegah bencana hidrometeorologi, mangrove dalam sistem ini menjadi tulang punggung ekologi yang menopang produktivitas. Sebuah simbiosis mutualisme antara konservasi dan ekonomi. Jika diterapkan, harapannya kawasan itu tak hanya hijau tapi juga menghidupi masyarakat sekitar secara bertanggung jawab.

Editor: Hendra Wijaya


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar