Kawasan mangrove Sungai Tiram di Bintan, Kepri, mulai menarik perhatian. Tak sekadar hutan bakau biasa, wilayah ini kini dilirik untuk jadi lahan budidaya perikanan masa depan yang ramah lingkungan. Gagasannya datang dari Naoto Akune, seorang pecinta mangrove asal Jepang yang melihat potensi unggul di tempat ini.
Menurutnya, Sungai Tiram punya modal kuat untuk dikembangkan jadi kawasan budidaya berkelanjutan. Ia tak sekadar bicara teori.
"Kawasan mangrove ini potensial dikembangkan menjadi model budidaya berkelanjutan yang mampu menjaga ekosistem sekaligus menghasilkan nilai ekonomi dengan sistem silvofishery," kata Akune.
Ucapannya itu disampaikan saat ia hadir di Bintan untuk kegiatan penanaman mangrove bersama Komunitas Jurnalis Kepri, bertepatan dengan peringatan Hari Pers Nasional 2026.
Lalu, apa sebenarnya silvofishery itu? Intinya, ini adalah metode cerdas yang menyatukan pelestarian ekosistem mangrove dengan usaha perikanan produktif. Bukan hal baru sebetulnya. Akune menyebut ini sebagai metode tradisional yang sudah terbukti efektif di Jepang dan beberapa negara Asia Tenggara.
Artikel Terkait
Presiden Prabowo Bertolak ke Jepang, Bahas Kerja Sama Strategis dengan Kaisar dan PM
Arus Balik Lebaran, Kemacetan 5 Kilometer Paralyze Jalur Pantura Cirebon
Pemudik Sumbar Modifikasi Motor Jadi Replika Rumah Gadang dari Limbah Plastik
DPR Gelar RDPU Soal Kasus Videografer Amsal Sitepu Besok