Program Repatriasi Sukarela Jerman Catat 3.678 Warga Suriah Kembali pada 2024

- Rabu, 11 Februari 2026 | 17:45 WIB
Program Repatriasi Sukarela Jerman Catat 3.678 Warga Suriah Kembali pada 2024

Kekhawatiran serupa disuarakan oleh para pekerja kemanusiaan yang langsung menyaksikan kondisi di Suriah. Sandra Lorenz, yang mengepalai komunikasi di organisasi bantuan Johanniter International Assistance, mengakui adanya dorongan alami untuk pulang. Namun, ia mengingatkan tentang realitas keras yang menanti.

“Kita juga melihat ini di Ukraina, bahwa orang tetap ingin kembali ke desa mereka meskipun ada serangan. Itu sepenuhnya normal,” katanya. “Tetapi situasi yang akan mereka hadapi harus jelas. Di banyak wilayah, infrastruktur telah hancur total. Dan orang-orang yang tinggal di sana saat ini terus-menerus mengungsi akibat pertempuran yang masih berlangsung.”

Lorenz menjelaskan bahwa meski tingkat kerusakan bervariasi antara kota seperti Aleppo yang hancur dengan ibu kota Damaskus krisis kemanusiaan melanda hampir semua wilayah. Kebutuhan akan rekonstruksi sangat besar, diperparah oleh dampak gempa bumi beberapa tahun silam. Organisasinya fokus pada pemulihan infrastruktur dasar dan mendukung rumah sakit dengan pasokan penting.

“Ada ratusan ribu orang yang bergantung pada bantuan pangan, dan yang membutuhkan dukungan untuk kembali mendapatkan akses terhadap air, perumahan yang layak, dan penghasilan,” ungkap Lorenz. Ia berharap setiap calon repatriatan telah mendapatkan informasi menyeluruh sebelum memutuskan pulang.

Delegasi Jerman Saksikan Langsung Tantangan Rekonstruksi

Sebuah delegasi yang terdiri dari perwakilan pemerintah Jerman dan organisasi masyarakat sipil baru-baru ini mengunjungi Suriah untuk menilai kebutuhan di lapangan. Nahla Osman, pengacara dan Wakil Presiden Asosiasi Organisasi Bantuan Jerman-Suriah (VDSH), adalah salah satu anggotanya.

Pengamatannya menggambarkan kehancuran yang sangat parah. Di Harasta, pinggiran Damaskus, hampir tidak ada bangunan yang layak huni.

“Lebih dari 80% sekolah di Suriah telah hancur. Pada saat yang sama, terdapat kekurangan besar hampir di segala bidang, terutama obat-obatan dan peralatan medis,” tutur Osman. “Menteri kesehatan mengatakan kepada kami bahwa beberapa peralatan hanya ada satu, kadang dua unit saja di seluruh Suriah.”

Salah satu fokus bantuan Jerman adalah rehabilitasi sektor kesehatan. Dalam kunjungan tersebut, ditandatangani perjanjian kerja sama dengan lima klinik. Namun, Osman menyayangkan narasi publik di Jerman yang menyederhanakan kompleksitas keputusan untuk kembali.

“Sebagian besar warga Suriah telah terintegrasi di sini, mereka berbicara bahasa Jerman dan bekerja,” lanjutnya. “Banyak yang memang bermimpi untuk kembali, tetapi tentu saja bukan dalam kondisi saat ini.”

Menurutnya, debat yang terjadi sering kali gagal menangkap nuansa dan terdengar seperti instruksi yang tidak empatik. Ia menegaskan bahwa membangun kembali sebuah negara yang hancur bukanlah tugas sederhana yang bisa dibebankan begitu saja kepada individu yang ingin pulang.

Editor: Agus Setiawan


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar