Program Repatriasi Sukarela Jerman Catat 3.678 Warga Suriah Kembali pada 2024

- Rabu, 11 Februari 2026 | 17:45 WIB
Program Repatriasi Sukarela Jerman Catat 3.678 Warga Suriah Kembali pada 2024

MURIANETWORK.COM - Program repatriasi sukarela warga Suriah yang didanai pemerintah Jerman mencatat angka signifikan pada tahun lalu. Data resmi menunjukkan, dari 5.976 pengajuan yang masuk, sebanyak 3.678 orang telah benar-benar kembali ke tanah air mereka. Program ini, yang dijalankan oleh Kantor Federal Jerman untuk Migrasi dan Pengungsi (BAMF), menawarkan dukungan finansial berupa biaya penerbangan dan tunjangan uang. Kebijakan ini dipandang sebagai bagian dari upaya mengelola migrasi, meski kondisi di Suriah pascaperang masih jauh dari kata pulih.

Menteri Dalam Negeri Jerman, Alexander Dobrindt, melihat angka ini sebagai validasi atas pendekatan yang diusungnya. Ia menegaskan bahwa fokusnya adalah memberikan dukungan terarah bagi mereka yang dinilai tidak memiliki prospek tinggal tetap.

“Mereka yang tidak memiliki prospek untuk tinggal akan menerima dukungan yang ditargetkan untuk repatriasi sukarela mereka,” ucap Dobrindt.

Dukungan konkretnya mencakup pembiayaan tiket pulang serta bantuan tunai sebesar 1.000 euro untuk setiap dewasa dan 500 euro per anak. Program khusus untuk warga Suriah ini diaktifkan kembali setahun lalu, setelah sempat dibekukan akibat konflik yang berkepanjangan. Lonjakan minat untuk kembali tercatat terutama setelah situasi politik di Suriah mengalami pergeseran pada akhir 2024.

Secara keseluruhan, BAMF melaporkan keberhasilan program repatriasi sukarela mereka. Pada tahun lalu, lembaga itu membantu keberangkatan 16.576 orang ke negara asal atau negara ketiga, suatu peningkatan yang cukup tajam dibanding tahun sebelumnya.

“Sebanyak 16.576 orang telah dibantu untuk kembali ke negara asal mereka atau ke negara ketiga yang bersedia menerima mereka. Ini merupakan peningkatan signifikan dalam jumlah keberangkatan dibandingkan tahun sebelumnya, ketika 10.358 orang meninggalkan negara ini,” jelas BAMF dalam rilis resminya.

Selain Suriah, tujuan utama lainnya adalah Turki, Federasi Rusia, Georgia, dan Irak.

Realitas Pahit di Tanah Air yang Porak-Poranda

Di balik angka-angka statistik tersebut, timbul pertanyaan mendasar tentang kesiapan dan keamanan Suriah untuk menerima warganya kembali. Banyak pihak mempertanyakan narasi “kisah sukses” dari program ini, mengingat kondisi di lapangan yang masih sangat memprihatinkan.

Iris Schwerdtner, Ketua Partai Kiri di Jerman, secara tegas menyatakan bahwa Suriah masih berada dalam situasi mirip perang saudara. Ia menilai wacana repatriasi saat ini sama sekali tidak relevan.

“Seluruh perdebatan mengenai isu ini sepenuhnya tidak tepat pada saat ini,” tegas Schwerdtner.

Kekhawatiran serupa disuarakan oleh para pekerja kemanusiaan yang langsung menyaksikan kondisi di Suriah. Sandra Lorenz, yang mengepalai komunikasi di organisasi bantuan Johanniter International Assistance, mengakui adanya dorongan alami untuk pulang. Namun, ia mengingatkan tentang realitas keras yang menanti.

“Kita juga melihat ini di Ukraina, bahwa orang tetap ingin kembali ke desa mereka meskipun ada serangan. Itu sepenuhnya normal,” katanya. “Tetapi situasi yang akan mereka hadapi harus jelas. Di banyak wilayah, infrastruktur telah hancur total. Dan orang-orang yang tinggal di sana saat ini terus-menerus mengungsi akibat pertempuran yang masih berlangsung.”

Lorenz menjelaskan bahwa meski tingkat kerusakan bervariasi antara kota seperti Aleppo yang hancur dengan ibu kota Damaskus krisis kemanusiaan melanda hampir semua wilayah. Kebutuhan akan rekonstruksi sangat besar, diperparah oleh dampak gempa bumi beberapa tahun silam. Organisasinya fokus pada pemulihan infrastruktur dasar dan mendukung rumah sakit dengan pasokan penting.

“Ada ratusan ribu orang yang bergantung pada bantuan pangan, dan yang membutuhkan dukungan untuk kembali mendapatkan akses terhadap air, perumahan yang layak, dan penghasilan,” ungkap Lorenz. Ia berharap setiap calon repatriatan telah mendapatkan informasi menyeluruh sebelum memutuskan pulang.

Delegasi Jerman Saksikan Langsung Tantangan Rekonstruksi

Sebuah delegasi yang terdiri dari perwakilan pemerintah Jerman dan organisasi masyarakat sipil baru-baru ini mengunjungi Suriah untuk menilai kebutuhan di lapangan. Nahla Osman, pengacara dan Wakil Presiden Asosiasi Organisasi Bantuan Jerman-Suriah (VDSH), adalah salah satu anggotanya.

Pengamatannya menggambarkan kehancuran yang sangat parah. Di Harasta, pinggiran Damaskus, hampir tidak ada bangunan yang layak huni.

“Lebih dari 80% sekolah di Suriah telah hancur. Pada saat yang sama, terdapat kekurangan besar hampir di segala bidang, terutama obat-obatan dan peralatan medis,” tutur Osman. “Menteri kesehatan mengatakan kepada kami bahwa beberapa peralatan hanya ada satu, kadang dua unit saja di seluruh Suriah.”

Salah satu fokus bantuan Jerman adalah rehabilitasi sektor kesehatan. Dalam kunjungan tersebut, ditandatangani perjanjian kerja sama dengan lima klinik. Namun, Osman menyayangkan narasi publik di Jerman yang menyederhanakan kompleksitas keputusan untuk kembali.

“Sebagian besar warga Suriah telah terintegrasi di sini, mereka berbicara bahasa Jerman dan bekerja,” lanjutnya. “Banyak yang memang bermimpi untuk kembali, tetapi tentu saja bukan dalam kondisi saat ini.”

Menurutnya, debat yang terjadi sering kali gagal menangkap nuansa dan terdengar seperti instruksi yang tidak empatik. Ia menegaskan bahwa membangun kembali sebuah negara yang hancur bukanlah tugas sederhana yang bisa dibebankan begitu saja kepada individu yang ingin pulang.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar