"Kita tidak berupaya memperoleh senjata nuklir. Kita telah menyatakan ini berulang kali dan siap untuk verifikasi apa pun," ujarnya.
Di sisi lain, dari Washington, nada yang terdengar agak berbeda. Presiden AS Donald Trump dalam sebuah wawancara dengan Fox Business menyiratkan bahwa Iran sebenarnya ingin mencapai kesepakatan. Trump bahkan menyebut adanya "armada besar" yang sedang menuju ke wilayah tersebut, sebuah pernyataan yang jelas-jelas memberi tekanan.
"Seperti yang Anda ketahui, kita memiliki armada besar saat ini yang menuju ke Iran. Kita akan lihat apa yang terjadi," kata Trump.
Lalu dia menambahkan, dengan nada khasnya, "Saya pikir mereka ingin membuat kesepakatan. Saya pikir mereka akan bodoh jika tidak melakukannya."
Jadi, situasinya begini: satu pihak bersikeras tak akan menyerah pada tekanan, sementara pihak lain menganggap kesepakatan adalah pilihan paling logis. Dialog mungkin masih berjalan, tapi ketegangan di antara kedua kalimat itu terasa nyata.
Artikel Terkait
BAPERA Bantah Ketum Fahd El Fouz Terkait Dugaan Pengeroyokan
Rano Karno: Perputaran Ekonomi Jakarta Capai Rp48 Triliun di Akhir Tahun
Herdman Puas dengan Persiapan Timnas Indonesia Jelang Final FIFA Series 2026
THR Dongkrak Belanja Ramadan, Tapi Fenomena Makan Tabungan Masih Terjadi