Di tengah peringatan 47 tahun Revolusi Islam, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyampaikan pidato tegas. Isinya? Penolakan terhadap apa yang disebutnya sebagai "tuntutan berlebihan" dari pihak asing, khususnya terkait program nuklir negaranya. Pernyataan ini muncul bertepatan dengan berlanjutnya pembicaraan yang alot dengan Amerika Serikat.
"Negara kita, Iran, tidak akan menyerah pada tuntutan berlebihan mereka," tegas Pezeshkian, Rabu (11/2).
Suasana peringatan tahun ini memang berbeda. Ancaman militer dari AS seolah menggantung di udara. Namun begitu, sang presiden tetap menyisipkan nada dialog. Dia menegaskan bahwa Iran tetap terbuka untuk membangun perdamaian dengan negara-negara tetangga di kawasan, meski tak akan mundur saat menghadapi agresi.
"Iran kita tidak akan menyerah dalam menghadapi agresi, tetapi kita terus berdialog dengan sekuat tenaga dengan negara-negara tetangga untuk membangun perdamaian dan ketenangan di kawasan ini," imbuhnya, seperti dilaporkan kantor berita AFP.
Soal isu nuklir yang selalu jadi titik panas, Pezeshkian kembali mengulang komitmen lama. Iran, katanya, sama sekali tidak berminat mengembangkan senjata atom. Bahkan, mereka mengaku siap diawasi.
"Kita tidak berupaya memperoleh senjata nuklir. Kita telah menyatakan ini berulang kali dan siap untuk verifikasi apa pun," ujarnya.
Di sisi lain, dari Washington, nada yang terdengar agak berbeda. Presiden AS Donald Trump dalam sebuah wawancara dengan Fox Business menyiratkan bahwa Iran sebenarnya ingin mencapai kesepakatan. Trump bahkan menyebut adanya "armada besar" yang sedang menuju ke wilayah tersebut, sebuah pernyataan yang jelas-jelas memberi tekanan.
"Seperti yang Anda ketahui, kita memiliki armada besar saat ini yang menuju ke Iran. Kita akan lihat apa yang terjadi," kata Trump.
Lalu dia menambahkan, dengan nada khasnya, "Saya pikir mereka ingin membuat kesepakatan. Saya pikir mereka akan bodoh jika tidak melakukannya."
Jadi, situasinya begini: satu pihak bersikeras tak akan menyerah pada tekanan, sementara pihak lain menganggap kesepakatan adalah pilihan paling logis. Dialog mungkin masih berjalan, tapi ketegangan di antara kedua kalimat itu terasa nyata.
Artikel Terkait
Prabowo Pimpin Rapat Evaluasi Ekonomi, Pertumbuhan Kuartal IV 2025 Capai 5,39%
Enam Tewas dalam Pesta Miras Oplosan di Jepara, Dua Korban Masih Kritis
Pemerintah Salurkan Santunan Rp14,85 Miliar untuk 990 Ahli Waris Korban Bencana di Sumatera
Bahar Smith Minta Maaf Secara Publik atas Penganiayaan Anggota Banser