Malam Sabtu (28/3) di Jakarta Selatan terasa lebih sunyi. Di kawasan Alam Asri VII, lampu-lampu dari sebuah rumah duka menyala terang, menjadi tujuan bagi mereka yang ingin memberikan penghormatan terakhir kepada almarhum Juwono Sudarsono, mantan Menteri Pertahanan. Salah satu pelayat yang datang adalah AM Hendropriyono, mantan Kepala BIN.
Ia tiba tak lama sebelum pukul setengah sepuluh malam. Langsung disambut keluarga di halaman, Hendropriyono kemudian masuk ke dalam. Hanya beberapa menit ia berada di dalam, memberi ruang untuk hening dan doa.
Usai melayat, di depan sejumlah wartawan, Hendropriyono membuka kenangannya tentang sosok Juwono. Kata-katanya mengalir, penuh rasa hormat. Ia menekankan satu hal: Juwono adalah pionir.
"Kabinet reformasi, saya kira kami para menteri waktu itu, sama-sama mengagumi Juwono Sudarsono. Beliau adalah menteri pertama yang punya latar belakang sipil murni, tapi memegang jabatan Menteri Pertahanan,"
Bagi Hendropriyono, langkah itu bukan sekadar pencapaian personal. Kehadiran seorang sipil di pucuk pimpinan Kementerian Pertahanan membawa angin perubahan yang signifikan. Terutama dalam mendorong tentara untuk lebih berkembang di ranah intelektual dan akademik.
"Tentara sejak saat beliau memimpin mulai banyak yang berkiprah di bidang akademik. Banyak yang jadi sarjana, pascasarjana, sampai doktor dan profesor. Termasuk saya ini, saya adalah pengikut beliau,"
Namun begitu, ada satu sisi Juwono yang justru membuat Hendropriyono terkesan. Meski berlatar belakang sipil, jiwa militannya kuat. Bahkan, menurutnya, tak semua orang dari kalangan militer sendiri punya semangat baja seperti itu.
"Saya sangat kehilangan. Beliau adalah penjuru. Latar belakangnya sipil penuh, tapi jiwanya sangat militan. Itu pelajaran kolektif buat kita semua,"
Ia melanjutkan,
"Belum tentu orang militer punya jiwa militansi seperti beliau. Beliau sangat konsekuen dalam pola pikir sebagai seorang pemimpin militer. Alhamdulillah, kita semua mendapat banyak warisan, peninggalan pemikiran darinya."
Malam itu pun berlanjut. Pelayat lain masih berdatangan. Tapi kesan yang ditinggalkan Hendropriyono jelas: seorang sipil dengan jiwa militan telah pergi, meninggalkan warisan yang jauh melampaui seragam.
Artikel Terkait
Manchester City Kalahkan Chelsea 1-0 di Final Piala FA, Gol Semenyo Jadi Penentu
Polri Bangun 28 Gudang Ketahanan Pangan di Seluruh Indonesia untuk Serap Hasil Panen
Polri Target Bangun 1.500 Unit Dapur Gizi pada 2026 untuk Dukung Program Makan Bergizi Gratis
Prabowo: Pangan Fondasi Negara, Swasembada Indonesia Tembus Target Lebih Cepat di Tengah Krisis Global