Anak Tewas Bunuh Diri karena Tak Mampu Beli Alat Tulis, Refleksi Sistem Dukungan yang Rapuh

- Senin, 09 Februari 2026 | 16:00 WIB
Anak Tewas Bunuh Diri karena Tak Mampu Beli Alat Tulis, Refleksi Sistem Dukungan yang Rapuh

Ajaran-ajaran serupa tentang ketabahan, welas asih, dan dukungan komunitas juga ditemukan dalam Dharma umat Hindu, praktik metta dalam Buddhisme, serta nilai ren dan li dalam Konghucu. Semua tradisi ini bertemu pada satu prinsip: martabat manusia (being) jauh lebih tinggi daripada sekadar apa yang dimilikinya (having).

Agama Perlu Ditopang oleh Aksi Sosial yang Nyata

Namun, nilai-nilai luhur agama akan menjadi rapuh jika tidak disertai dengan perwujudan nyata dalam struktur sosial. Fondasi spiritual pada diri anak bisa retak jika lingkungan sekitarnya terus membiarkan ketimpangan dan tidak ramah terhadap tumbuh kembang mereka.

Berdasarkan pengamatan, setidaknya ada tiga langkah konkret yang dapat dilakukan secara bersama-sama. Pertama, menciptakan sekolah yang berempati, bukan hanya mengejar prestasi akademis semata. Sekolah dapat menerapkan kebijakan sensitif seperti penyediaan alat tulis bersama, dana solidaritas kelas, dan melatih guru untuk menggunakan bahasa yang membangun. Intinya, anak harus merasa aman untuk meminta bantuan.

Kedua, mengoptimalkan peran komunitas keagamaan sebagai jejaring pengaman. Tempat ibadah seperti masjid, gereja, pura, vihara, dan klenteng berpotensi menjadi posko kepedulian yang menyediakan beasiswa mikro, pendampingan, atau sekadar ruang aman untuk bercerita.

“Iman yang hidup selalu berwajah sosial,” tegas seorang praktisi yang aktif dalam pendampingan komunitas.

Ketiga, negara harus hadir hingga ke persoalan yang terlihat sepele. Bantuan pendidikan seringkali gagal menyentuh kebutuhan harian yang justru krusial bagi harga diri seorang anak, seperti alat tulis atau seragam yang layak. Kehadiran negara diperlukan untuk memastikan hal-hal mendasar itu tidak lagi menjadi penghalang martabat.

Membangun Kultur Harapan Bersama

Tragedi ini adalah alarm keras bagi semua pihak. Sebuah bangsa tidak boleh membiarkan anak-anaknya memikul beban yang seharusnya ditanggung secara kolektif. Sementara nilai-nilai spiritual dan agama menanamkan daya lenting batin kemampuan untuk tetap berharap keadilan sosial harus menyediakan tanah subur agar harapan itu bisa bertumbuh dan berbuah.

Indonesia, dengan keberagaman imannya, memiliki modal sosial yang besar berupa nilai-nilai kemanusiaan yang sejalan. Jika sinergi antara keluarga, sekolah, komunitas keagamaan, dan negara dapat diperkuat, maka rasa malu lambat laun dapat digantikan oleh rasa aman, keputusasaan oleh pendampingan, dan kemiskinan oleh solidaritas yang tulus.

Pada akhirnya, ukuran kemajuan sebuah bangsa bukanlah semata angka pertumbuhan ekonomi, melainkan seberapa aman dan nyaman seorang anak dari keluarga kurang mampu berjalan menuju sekolahnya tanpa rasa takut dipermalukan dan seberapa banyak tangan orang dewasa yang siap menjaganya dalam perjalanan itu. Lingkungan sosial yang manusiawi adalah tempat di mana setiap individu, dengan segala kelebihan dan kekurangannya, merasa dimanusiakan.

Pormadi Simbolon. Pembimas Katolik Kanwil Kemenag Banten, alumnus Magister Ilmu Filsafat STF Driyarkara.

Editor: Lia Putri


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar