"Gajah liar itu tewasnya dibunuh secara sengaja. Ini ulah orang-orang yang tidak bertanggung jawab," ujar Irjen Herry Heryawan pada Jumat (6/2).
Analisis dari ahli di lapangan memberikan bukti yang lebih konkret. Pengendali Ekosistem Hutan Ahli BKSDA Riau, drh Rini Deswita, mengungkapkan temuan krusial yang mengarah pada kesimpulan pembunuhan. Saat diperiksa, bangkai gajah jantan itu menunjukkan luka yang sangat mencurigakan.
"Posisi serpihan proyektil di bagian belakang tengkorak kepala. Bersarang di tengkorak," jelas Rini Deswita saat dihubungi terpisah, juga pada Jumat (6/2).
Kondisi Bangkai yang Mengenaskan
Gajah tersebut pertama kali ditemukan dalam keadaan tak bernyawa pada Senin (2/2). Pemandangan di lokasi penemuan sungguh memilukan, menggambarkan kekejaman yang dialami satwa malang tersebut.
"Sebagian kepala dari dahi, mata, dan belalainya hilang," lanjut Rini mendeskripsikan kondisi bangkai.
Tidak hanya itu, hilangnya bagian tubuh yang memiliki nilai ekonomi tinggi juga memperkuat motif kejahatan ini. "Gadingnya juga hilang," tambahnya, menyempurnakan gambaran tentang kekejaman yang diduga dilakukan untuk mengeruk keuntungan ilegal.
Kasus ini kembali menyoroti kerentanan populasi Gajah Sumatera di habitatnya. Tekanan dari perburuan liar untuk mengambil gading, konflik dengan manusia, dan penyusutan hutan terus mengancam kelangsungan hidup spesies ikonis Indonesia tersebut, menuntut langkah-langkah strategis dan berkelanjutan dari semua pemangku kepentingan.
Artikel Terkait
Anggota DPR Usulkan WFH Diterapkan di Hari Rabu, Bukan Jumat
Anggota DPR Ingatkan Pemerintah Soal Risiko Long Weekend dari WFH Hari Jumat
Bea Cukai Malang Dampingi Perusahaan Lokal Percepat Perizinan Cukai
Operasi Ketupat 2026 Resmi Ditutup, Volume Kendaraan Tembus Rekor