Arsitek Papua Barat Pecahkan Rekor Tinju 24 Jam untuk Galang Dana Anak Kanker

- Senin, 09 Februari 2026 | 02:30 WIB
Arsitek Papua Barat Pecahkan Rekor Tinju 24 Jam untuk Galang Dana Anak Kanker

MURIANETWORK.COM - Seorang arsitek dan pengusaha klinik kesehatan asal Fakfak, Papua Barat, Patrick Winata, baru saja mencatatkan namanya dalam Guinness World Records. Pria berusia 40 tahun itu berhasil menyelesaikan tantangan bertinju nonstop selama 24 jam, sebuah prestasi yang diraihnya pada perayaan ulang tahunnya, 1 November 2025, di arena QBIG, BSD, Tangerang. Pencapaian fisik yang ekstrem ini bukan hanya untuk memecahkan rekor, tetapi juga menjadi bagian dari penggalangan dana bagi rumah singgah anak-anak penderita kanker.

Dua Putra Fakfak dengan Jalannya Masing-Masing

Kisah Patrick Winata sering dibandingkan dengan sosok lain yang juga mengusung identitas sebagai "Putra Fakfak", yakni Menteri Investasi Bahlil Lahadalia. Meski sama-sama berasal dari tanah yang sama, jalan yang mereka tempuh berbeda. Bahlil dikenal melalui kancah politik, sementara Patrick membangun nama di dunia kesehatan dan olahraga. Keduanya, dalam bidangnya masing-masing, menunjukkan dedikasi dan capaian yang mengesankan.

Dari Korban Bullying Menjadi Pemegang Rekor Dunia

Minat Patrick pada tinju berakar dari pengalaman masa kecilnya di Fakfak. Sering menjadi korban perundungan membuatnya tumbuh sebagai anak yang penakut. Rasa takut itu justru membawanya pada keputusan untuk belajar membela diri. Kakeknya, seorang nelayan kelahiran Fujian, telah menanamkan semangat pantang menyerah lebih dulu. Ketertarikannya pada dunia rohani sempat membawanya ke rencana untuk masuk seminari, namun orang tuanya menyarankannya untuk menamatkan SMA terlebih dahulu.

Kepindahannya ke Tangerang untuk bersekolah di SMA Santa Laurensia membuka cakrawalanya. Ia menyadari dunia yang lebih luas, jauh dari kampung halamannya yang dia gambarkan sebagai "di depan rumah sudah laut, di belakang rumah sudah gunung". Ia kemudian melanjutkan studi arsitektur di Universitas Trisakti dan berprofesi sebagai arsitek, namun gairahnya pada tinju tak pernah pudar.

Disiplin Besi untuk Sebuah Ambisi

Untuk mempertahankan kondisi fisik prima, Patrick menjalani disiplin hidup yang ketat. Pola makannya sangat terjaga: telur orak-arik dan buah untuk sarapan, dada ayam rebus atau ikan untuk makan siang. Menu sederhana ini adalah warisan dari kebiasaan makannya sejak kecil di Fakfak, di mana ikan tongkol melimpah. Makanan berat seperti soto atau sate bahkan sudah tidak lagi menarik seleranya. Fokusnya satu: menjaga tubuh tetap optimal untuk bertinju.

Proyek 24 Jam yang Penuh Perhitungan

Ide untuk memecahkan rekor dunia itu diwujudkan dalam "Proyek 24". Patrick bertanding melawan enam pelatih tinju yang bergantian menghadapinya di atas ring. Tantangan dimulai pada 30 Oktober pukul 13.00 dan berakhir tepat 24 jam kemudian. Setiap ronde berdurasi tiga menit dengan istirahat satu menit, dan setelah 12 ronde, ia mendapat jeda 30 menit untuk asupan nutrisi. Seluruh proses diawasi ketat oleh dua kamera yang merekam dan mencatat waktu secara digital untuk memastikan keabsahan rekor.

Editor: Melati Kusuma


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar