MURIANETWORK.COM - Geliat proyek infrastruktur, energi, dan industri di dalam negeri ternyata belum mampu mendongkrak penyerapan tenaga kerja di sektor permesinan secara signifikan. Padahal, pasar tengah berkembang, pelaku industri justru menerapkan strategi kehati-hatian dalam perekrutan. Hal ini disebabkan oleh durasi proyek yang cenderung pendek dan pola tender bertahap, sehingga perusahaan lebih memilih skema kerja kontrak atau borongan daripada menambah pekerja tetap.
Strategi "Wait and See" dan Fleksibilitas Tenaga Kerja
Di balik maraknya proyek domestik, suasana di lapangan menunjukkan keengganan pelaku usaha untuk melakukan rekrutmen permanen. Ketua Gabungan Industri Pengerjaan Logam dan Mesin Indonesia (Gamma), Dadang Asikin, mengungkapkan bahwa industri sedang berada dalam fase "wait and see".
"Ini karena strategi wait and see proyek domestik naik, tapi durasinya pendek tender bertahap para pelaku industri sehingga perusahaan cenderung menunda hiring tetap pakai kontrak, borongan, atau subkon didalam memenuhi kebutuhan tenaga kerjanya," ujarnya.
Pola tender yang tidak berjangka panjang, menurut analisisnya, menjadi akar masalah. Untuk menjaga kesehatan finansial dan fleksibilitas operasional, kebutuhan SDM lebih banyak dipenuhi melalui skema jangka pendek. Pendekatan ini dianggap lebih rasional menghadapi ketidakpastian durasi proyek.
Otomasi dan Efisiensi sebagai Pengganti Penambahan Personel
Faktor lain yang mempengaruhi tren penyerapan tenaga kerja adalah transformasi internal di lantai produksi. Banyak perusahaan mulai beralih ke penerapan teknologi untuk meningkatkan output tanpa harus menambah jumlah karyawan secara masif.
Dadang Asikin menjelaskan, "Hal lain adanya pergeseran ke mesin dan otomasi ringan bukan robot canggih, tapi pengunaan mesin mesin yang lebih efisien."
Pemanfaatan mesin CNC, proses pemotongan otomatis, pengelasan semi-otomatis, serta perangkat lunak desain dan nesting telah mengubah lanskap produksi. Teknologi ini menghasilkan pekerjaan yang lebih cepat dan presisi, sehingga peningkatan produktivitas lebih dicapai melalui optimalisasi alat daripada penambahan personel.
Artikel Terkait
KPK Sambut Baik Desakan MAKI agar DPR Bentuk Panja Khusus Usut Penahanan Yaqut
China dan ASEAN Sepakati Dialog untuk Dorong Rekonsiliasi di Myanmar
QS Umumkan 4 Universitas Indonesia Terbaik untuk Ilmu Hayati dan Kedokteran
KPK Buka Alasan Alihkan Status Tahanan Eks Menag Yaqut ke Rumah