Proyek Infrastruktur Ramai, Industri Mesin Masih Pilih Rekrut Kontrak dan Otomasi

- Minggu, 08 Februari 2026 | 21:45 WIB
Proyek Infrastruktur Ramai, Industri Mesin Masih Pilih Rekrut Kontrak dan Otomasi

Dinamika di tingkat operasional ini juga tidak terlepas dari realitas bisnis industri permesinan yang memiliki margin keuntungan relatif tipis. Kondisi ini memaksa perusahaan untuk bersikap sangat selektif, karena kesalahan dalam rekrutmen karyawan tetap dapat menjadi beban finansial jangka panjang yang serius.

"Industri mesin margin tidak setebal industri konsumsi sehingga strategi reqruitemnya harus penuh kehatian hatian diaman jika salah rekruit akan menjadi beban jangka panjang sehingga pilihan rasional adalah menaikkan produktivitas dulu, bukan jumlah pekerja," jelas Dadang.

Dengan kata lain, dalam iklim bisnis yang penuh kehati-hatian, peningkatan kapasitas melalui teknologi dianggap sebagai langkah yang lebih aman dan berkelanjutan dibandingkan ekspansi tenaga kerja.

Dukungan Kebijakan untuk Penguatan Industri Lokal

Menyikapi kondisi ini, Gamma mendorong adanya penyesuaian kebijakan pemerintah agar geliat proyek nasional benar-benar menguatkan industri dalam negeri. Sorotan utama adalah pada implementasi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang dinilai perlu bergeser dari sekadar administratif ke penguatan kapasitas riil.

"Kebijakan yang harus di sikapi pemerintah, kami menyarankan Pemerintah, Kemenperin, BUMN terlebih untuk proyek atau progam yang di biayai oleh APBN, perhitungan angka TKDN memberikan bobot lebih kepada engineering lokal, design authority, system integrator lokal," tuturnya.

Selain itu, usulan untuk mengonsolidasi proyek-proyek kecil menjadi program yang lebih besar dan berjangka panjang diajukan. "Pipeline" proyek yang jelas akan memberi kepastian bagi industri untuk berinvestasi, baik dalam kapasitas produksi maupun pengembangan SDM. Insentif fiskal dan penyederhanaan regulasi bahan baku juga dinilai krusial untuk menciptakan nilai tambah di dalam negeri.

Data Tenaga Kerja yang Belum Menggembirakan

Kekhawatiran yang disampaikan pelaku industri ini sejalan dengan data makro yang ada. Proporsi tenaga kerja sektor manufaktur terhadap total tenaga kerja nasional tercatat 13,83% pada 2024, mengalami penurunan dibanding tahun 2022 yang mencapai 14,17%. Laporan dari lembaga riset global juga menyoroti perlambatan pertumbuhan ketenagakerjaan di sektor manufaktur, dengan laju penciptaan lapangan kerja yang disebut sebagai yang terlemah dalam beberapa bulan terakhir.

Meski pemerintah memproyeksikan peningkatan proporsi tenaga kerja industri pengolahan nonmigas tahun ini, tantangan di lapangan seperti durasi proyek yang pendek, adopsi teknologi, dan kehati-hatian bisnis menunjukkan bahwa jalan menuju penyerapan tenaga kerja yang optimal di industri permesinan masih memerlukan sinergi kebijakan yang tepat dan kepastian pasar.

Editor: Melati Kusuma


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar