Menariknya, Prabowo bukanlah satu-satunya pejabat tinggi di acara itu. Sejumlah menteri dan pejabat ternyata sudah lebih dulu hadir. Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin dan Menteri Agama Nasaruddin Umar terlihat hadir. Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo juga ada, duduk tak jauh dari Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa dan Wakilnya, Emil Dardak. Kehadiran mereka seakan menegaskan betapa pentingnya momen sejarah ini.
Menurut rilis Biro Pers Istana, acara yang dihadiri lebih dari 100 ribu orang ini bukan sekadar ritual keagamaan biasa. Mujahadah Kubro ini dimaknai sebagai simbol kekuatan, sekaligus refleksi peran NU sebagai pilar sosial-keagamaan bangsa.
Nah, kehadiran Presiden Prabowo sendiri bacaannya jelas: ini adalah simbol kehadiran negara. Sebuah bentuk pengakuan dan upaya memperkokoh sinergi antara pemerintah dengan para ulama. Di tengah tantangan global yang makin kompleks, kolaborasi semacam ini dianggap krusial untuk menjaga stabilitas sosial dan mendorong kemajuan bangsa ke depan. Malang pagi itu menjadi saksi bisu dari pertemuan antara otoritas negara dan otoritas kultural, dalam sebuah harmoni yang jarang terlihat.
Artikel Terkait
Menkeu Suntik Rp100 Triliun Tambahan ke Perbankan Jaga Likuiditas Jelang Lebaran
Pemkot Mataram Kaji Wajibkan Pejabat Bersepeda ke Kantor
Ledakan Kedua di Pangkalan Irak Tewaskan 7 Personel, Klinik Militer Turut Dihantam
Contoh Rundown Acara Halalbihalal untuk Keluarga, Kantor, hingga Lingkungan RT