Menjelang akhir waktu normal, Iran memainkan kartu power play dengan menarik kipernya. Tekanan gila-gilaan itu membuahkan hasil. Di menit ke-37, lagi-lagi Mahdi Karimi, menyamakan skor menjadi 4-4. Laga pun masuk perpanjangan waktu.
Di babak tambahan, Israr Megantara seolah hendak menjadi pahlawan dengan mencetak hattrick-nya di menit ke-49. 5-4! Sayangnya, euforia itu singkat. Iran, yang masih bermain power play, langsung membalas melalui Salar Aghapour di menit yang sama. 5-5. Semua harus berakhir di titik penalti.
Adu penalti berjalan mencekam. Kiper Muhammad Nizar bahkan sukses menepis tendangan pertama Iran. Tapi, nasib berkata lain. Dua eksekutor Indonesia, Dewa Rizki dan Israr Megantara, gagal mengeksekusi dengan baik. Iran, dengan mental juara, menjalankan sisa tendangan mereka dengan sempurna. 5-4.
Kekalahan yang Tetap Membanggakan
Ya, gelar juara memang lepas. Tapi prestasi Timnas Futsal Indonesia sebagai runner-up Asia adalah pencapaian sejarah. Mereka memecahkan rekor dengan melangkah ke final untuk pertama kalinya, setelah menaklukkan raksasa seperti Korea Selatan dan Jepang.
Di sisi lain, kekalahan dari Iran bukanlah hal yang memalukan. Tim Timur Tengah itu adalah raksasa sejati futsal Asia. Gelar tahun ini adalah yang ke-14 bagi mereka. Mereka memang jagonya.
Malam itu, Indonesia kalah. Tapi mereka pulang dengan kepala tetap tegak. Perjalanan luar biasa ini telah memberi kebanggaan baru, dan mungkin, fondasi untuk mimpi yang lebih besar lain kali.
(KAH)
Artikel Terkait
Percobaan Bunuh Diri di Flyover Kiaracondong Berhasil Digagalkan Polisi
Operasi Ketupat 2026 Resmi Ditutup, Angka Kematian Kecelakaan Turun Drastis
Suami di Makassar Laporkan Istri Diduga Jual Tiga Anak dan Keponakan
Gubernur DKI Ingatkan Perantau: Bekali Kemampuan Kerja, Jangan Jadi Beban Sosial