Irene Umar tidak hanya berbicara tentang prinsip, tetapi juga menghubungkannya dengan teladan nyata dalam sejarah pers Indonesia. Ia mengajak para peserta untuk merefleksikan perjuangan Roehana Koeddoes, wartawati pertama tanah air yang sejak 1911 telah memanfaatkan media sebagai alat pencerahan dan penggerak perubahan sosial.
Menurut Irene, Roehana adalah bukti nyata bagaimana kekuatan tulisan dapat dimobilisasi untuk memperjuangkan hak-hak dan kemajuan perempuan di masanya.
"Beliau berjuang dengan hati untuk memajukan nasib perempuan di sekelilingnya. Ini menjadi intensi yang sangat mulia dan harus terus kita warisi oleh generasi sekarang," tutur Irene.
Dukungan bagi Ekosistem Media yang Sehat
Mengaitkannya dengan ranah kerja Kementerian Ekonomi Kreatif, Irene menyatakan bahwa jurnalisme yang sehat dan beretika adalah bagian tak terpisahkan dari ekosistem ekonomi kreatif nasional. Media yang kuat, independen, dan berpegang teguh pada prinsip-prinsip pemberitaan yang bertanggung jawab diyakini dapat menciptakan iklim yang kondusif bagi tumbuhnya kreativitas, inovasi, serta partisipasi publik.
Dengan semangat warisan Roehana Koeddoes, Irene Umar berharap agar para jurnalis Indonesia, terutama jurnalis perempuan, dapat terus menghasilkan karya yang tidak hanya jujur dan akurat, tetapi juga penuh empati dan keberpihakan pada kebenaran. Kontribusi semacam ini, pungkasnya, sangat vital untuk mewujudkan cita-cita Indonesia Emas 2045.
Artikel Terkait
Wagub Kaltara Soroti Kondisi Jembatan dan RS Rusak di Perbatasan Apau Kayan
Spekulasi Hubungan Baru Pratama Arhan dengan Selebgram Inka Andestha
Geliat Ekonomi Daerah Melonjak Tiga Kali Lipat Saat Mudik Lebaran
Senegal Ajukan Banding ke CAS Soal Pencabutan Gelar Juara Piala Afrika 2025