Dukungan ini bukanlah hal yang muncul tiba-tiba. Sehari sebelumnya, tepatnya pada Kamis (5/2), telah terjadi pertemuan tingkat tinggi antara pejabat kedua negara di Beijing. Wakil Menteri Luar Negeri China, Miao Deyu, menerima kunjungan dari rekannya dari Iran, Kazem Gharibabadi.
Dalam pertemuan tertutup itu, Gharibabadi memberikan penjelasan mendalam mengenai situasi domestik yang sedang dihadapi negaranya. Pertemuan bilateral ini dipandang sebagai langkah koordinasi penting menjelang dimulainya perundingan yang sarat dengan kepentingan strategis tersebut.
Mediasi Oman dan Peta Perundingan
Perundingan di Muscat menghadirkan suasana yang kompleks, mengingat sejarah konflik antara pihak-pihak yang terlibat. Oman, dengan tradisi diplomasinya yang netral, berperan sebagai mediator yang krusial untuk memfasilitasi dialog.
Delegasi Iran dalam perundingan ini dipimpin oleh Menteri Luar Negeri, Abbas Araghchi, sementara Amerika Serikat mengirimkan utusan khususnya untuk Timur Tengah, Steve Witkoff. Kehadiran kedua diplomat senior ini menunjukkan tingkat keseriusan masing-masing negara, meski jalan menuju kesepakatan diprediksi akan berliku.
Latar belakang perundingan ini memang tidak sederhana. Pertemuan di Muscat merupakan kontak langsung pertama terkait isu nuklir sejak eskalasi militer yang melibatkan serangan terhadap situs-situs nuklir Iran pada pertengahan tahun sebelumnya. Konteks ini membuat setiap pernyataan dukungan, seperti dari China, memiliki bobot dan resonansi politik yang signifikan di meja perundingan.
Artikel Terkait
Pendiri OnlyFans Leonid Radvinsky Meninggal Dunia Setelah Berjuang Melawan Kanker
Netanyahu dan Trump Bahas Kesepakatan Baru Usai Operasi Militer di Iran
Arsenal Kehilangan Lima Pemain Inti untuk Jeda Internasional Akibat Cedera
Revisi UU Pemda 2026 Dinanti Jadi Momentum Perbaiki Hubungan Pusat-Daerah