Lebih dari sekadar angka, kualitas penurunan kemiskinan juga terlihat dari perbaikan dua indikator penting. Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1), yang mengukur rata-rata kesenjangan pengeluaran penduduk miskin terhadap garis kemiskinan, turun dari 0,574 menjadi 0,492. Sementara itu, Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) yang sensitif terhadap ketimpangan pengeluaran di antara penduduk miskin sendiri, juga membaik dari 0,111 menjadi 0,095.
Penurunan kedua indeks ini mengindikasikan bahwa kondisi rata-rata penduduk miskin di Jakarta mengalami perbaikan. Kesenjangan antara pengeluaran mereka dengan garis hidup minimum semakin mengecil, dan ketimpangan di antara kelompok miskin itu sendiri juga berkurang.
Garis Kemiskinan yang Terus Bergerak
Di balik tren positif tersebut, terdapat dinamika pada garis kemiskinan itu sendiri. BPS mencatat, Garis Kemiskinan DKI Jakarta pada September 2025 naik menjadi Rp 897.768 per kapita per bulan, atau meningkat 5,28 persen dari Maret 2025 yang sebesar Rp 852.768. Komposisinya masih didominasi oleh pengeluaran untuk kebutuhan makanan, yakni sebesar 69,30 persen, sementara bukan makanan menyumbang 30,70 persen.
Kadarmanto kemudian memberikan ilustrasi yang lebih konkret untuk memahami besaran angka ini dalam konteks rumah tangga.
Perhitungan ini menyiratkan bahwa sebuah rumah tangga di Jakarta dengan lima anggota akan dikategorikan miskin jika pengeluaran per bulannya di bawah angka tersebut, sebuah patokan yang terus bergerak seiring dengan inflasi dan perubahan pola konsumsi.
Artikel Terkait
Pendiri OnlyFans Leonid Radvinsky Meninggal Dunia Setelah Berjuang Melawan Kanker
Netanyahu dan Trump Bahas Kesepakatan Baru Usai Operasi Militer di Iran
Arsenal Kehilangan Lima Pemain Inti untuk Jeda Internasional Akibat Cedera
Revisi UU Pemda 2026 Dinanti Jadi Momentum Perbaiki Hubungan Pusat-Daerah