Pekan lalu, di Davos, dunia bisnis dan politik bertemu dalam World Economic Forum. Suasana forum itu selalu ramai, penuh agenda. Tapi di balik diskusi ekonomi, ada percakapan lain yang lebih mendesak: soal perdamaian dan konflik yang terus menghangat di berbagai belahan dunia.
Dalam kesempatan itu, Indonesia mengumumkan keputusannya untuk bergabung dengan Board of Peace (BoP). Inisiatif yang digalang Presiden AS Donald Trump ini bertujuan menyelesaikan kerumitan konflik Palestina-Israel, dan sudah didukung sekitar 35 negara, termasuk beberapa negara muslim kunci.
Reaksi atas langkah Indonesia ini beragam. Banyak yang melihatnya sebagai peluang. Sebuah ikhtiar konkret untuk mengakhiri penderitaan panjang rakyat Palestina, dengan harapan BoP bisa menjadi jalan keluar dari kebuntuan.
Di sisi lain, suara kritis juga nyaring terdengar. Kekhawatiran utama adalah kuatnya aroma ‘Pax Americana’ ala Trump dalam badan baru ini. Banyak yang meragukan efektivitasnya, bahkan mengkhawatirkan dampak buruknya bagi masa depan Palestina. Tak hanya itu, ada kekhawatiran ini akan menggerus peran dan kredibilitas PBB. Beberapa kekuatan global pun tampak enggan ikut serta, yang semakin menguatkan skeptisisme tersebut.
Namun begitu, ada satu hal yang barangkali perlu jadi perhatian serius kita di dalam negeri: dampak keanggotaan ini di level domestik. Potensi glokalisasi yang bisa berujung pada radikalisasi.
Dari Pegunungan Kabul hingga Gurun Syam
Ceritanya bukan hal baru. Akhir 80-an, saat Perang Dingin memanas di Afghanistan, sejumlah anak muda Indonesia rela terbang ribuan mil. Mereka ingin membantu saudara seiman melawan invasi Uni Soviet. Seruan jihad di sana berkelindan dengan suasana domestik saat itu, di mana ekspresi keagamaan merasa dibatasi. Kombinasi narasi global dan lokal itulah yang mendorong mereka pergi.
Puluhan tahun berselang, pola serupa terulang. Sekitar satu dekade setelah 9/11, kelompok yang menyebut diri ISIS mendadak merebut kota-kota penting di Suriah dan Irak. Narasi mereka tentang khilafah akhir zaman, dipadukan dengan kekecewaan terhadap hegemoni politik yang dianggap tidak islami, menarik perhatian. Lagi-lagi, fusi narasi global dan domestik mengorkestrasi keberangkatan puluhan warga Indonesia, kali ini menuju debu dan kekacauan di gurun Syam.
ISIS dan Permainan Glokalisasi
Glokalisasi itu intinya adalah proses mencampur fenomena global dengan konteks lokal. ISIS jago dalam hal ini. Mereka tak cuma memanfaatkan situasi di Timur Tengah, tapi juga menyelipkan narasi lokal kita: kesenjangan sosial, ketimpangan ekonomi, rasa frustasi politik. Paduan ini menciptakan relevansi yang terasa personal, menggugah sebagian orang untuk bertindak ekstrem, bahkan rela meninggalkan rumah demi janji utopia.
Sekarang, dengan penetrasi internet dan media sosial yang sangat dalam, proses glokalisasi ini berjalan lebih cepat dan luas. Transmisi informasi yang instan memungkinkan aspek lokal dan global bertemu dalam hitungan detik. Ini membuka ruang operasi yang lebar bagi kelompok radikal untuk merekrut. Mereka bisa menyabotase simpati tulus masyarakat Indonesia terhadap Palestina, mengalihkannya ke jalur destruktif yang sama sekali tidak konstruktif.
Artikel Terkait
Utang Tak Dibayar, Pria Sidoarjo Dijemput Paksa dan Dianiaya Massa
Di Balik Canda Purnabakti Arief Hidayat: Kisah Ajakan yang Mengubah Takdirnya di MK
Ketua Komisi VII Soroti Menteri Pariwisata: Jawaban Harusnya di Rapat, Bukan di Medsos
Ribuan Cacahan Uang Serbu TPA Liar di Bekasi, Asal-Usulnya Masih Misteri