Indonesia di Board of Peace: Antara Diplomasi dan Ancaman Radikalisasi Domestik

- Rabu, 04 Februari 2026 | 11:25 WIB
Indonesia di Board of Peace: Antara Diplomasi dan Ancaman Radikalisasi Domestik

Modus Rekrutmen di Media Sosial

Kelompok berideologi seperti ISIS umumnya bekerja dalam dua tahap. Pertama, menjaring ‘sel tidur’ dengan memadukan isu kebijakan luar negeri seperti keikutsertaan Indonesia dalam BoP dengan ketidakpuasan sosial-politik-ekonomi di dalam negeri. Mereka akan menggembar-gemborkan bahwa sistem politik Indonesia jauh dari nilai Islam, dan itu sebabnya negeri ini tak bisa membantu Palestina dengan maksimal.

Kedua, mereka memperkuat sel-sel itu dengan resonansi identitas. Menyatu-rasakan penderitaan muslim Palestina dengan muslim Indonesia. Fusi identitas ini berbahaya, karena bisa mendorong simpati yang tulus ke dalam jurang radikalisme yang sempit. Media sosial, dengan ruang bebasnya, adalah kanal yang sempurna untuk modus operandi semacam ini. Rekrutmen online terbukti efektif menjebak mereka yang lugu dan sedang mencari identitas.

Ini Soal Ketahanan Nasional

Jadi, penggunaan narasi glokalisasi dan fusi identitas kini menjadi senjata utama kelompok radikal. Sasaran empuknya adalah anak-anak bangsa yang sebenarnya bersimpati tulus pada perjuangan Palestina. Karena itu, kewaspadaan terhadap mekanisme ini bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Ini harus jadi pertimbangan utama dalam memperkuat ketahanan nasional kita dari ancaman aktor non-negara.

Apalagi di era sekarang, perang narasi dan perang hibrida sudah jadi bagian dari kancah geopolitik global. Kita tak bisa abai.

Perlu Pendekatan yang Cermat

Terlepas dari pro-kontra kebijakan BoP, Indonesia harus berjalan dengan sangat hati-hati. Harus ada kalkulasi yang matang dalam membaca keterkaitan antara politik luar negeri dan dinamika dalam negeri. Keduanya kini tak terpisahkan.

Mengadopsi sifat ‘intermestik’ mempertimbangkan aspek internasional dan domestik secara bersamaan dalam setiap penalaran kebijakan, menjadi krusial. Ini adalah cara untuk menyeimbangkan mandat konstitusi kita, yang anti penjajahan dan mendukung perdamaian dunia, dengan keamanan dan ketahanan nasional di rumah sendiri.


M Tata Auniyrahman. Analis muda geopolitik dan keamanan, berkedudukan di Islamabad, menempuh studi pascasarjana di Islamabad, Pakistan.


Halaman:

Komentar